ADAB-ADAB MENUNTUT ILMU DAN BEBERAPA SIFAT YANG HARUS DIJAUHI
Oleh As Da



1. Ikhlas
Seorang yang hendak menuntut ilmu harus berniat melakukan kegiatannya itu karena Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala. Jika seseorang berniat menuntut ilmu untuk mendapatkan ijasah agar mendapatkan kedudukan atau status dalam masyarakat maka Rosululloh shallallaahu 'alaihi wa sallam mengancam dalam sebuah hadits :

Namun jika seseorang mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan ijasah bukan karena kepentingan (keuntungan) dunia tetapi karena peraturan dan sistem yang ada mengharuskan ijasah dan menjadi standar internasional, Syekh Utsaimin mengatakan: Jika niatnya mendapatkan ijasah untuk memberi manfaat bagi manusia dengan mengajar, memegang sebuah jabatan tertentu atau yang lainnya, maka niat ini tidak mengapa karena ini niat yang benar. (Kitabul Ilmi, hal 25-26)Sengaja ikhlas disebutkan di awal pembahasan adab karena ikhlas merupakan pondasi.

2. Diniatkan untuk menghilangkan ketidaktahuan (kebodohan) diri dan orang di lingkungannya.

Karena pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

Menuntut ilmu dengan niat menghilangkan ketidaktahuan (kebodohan) dari diri sendiri karena pada dasarnya setiap kita tidak tahu apa-apa sebelum belajar. Jika kita belajar dan menjadi orang yang berilmu maka ketidaktahuan (kebodohan) akan hilang. Demikian pula berniat menghilangkan ketidaktahuan dari umat ini. Ini bisa dilakukan dengan belajar dan berbagai usaha yang menyebabkan orang lain mendapat ilmu.

Untuk mendapatkan ilmu tidak hanya dengan duduk di pengajian, tetapi bisa dengan berbagai cara dan dalam berbagai keadaan.

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Ilmu itu tidak bisa ditandingi jika niat (belajar)nya benar.” Murid-murid beliau bertanya: “Bagaimana caranya?” Beliau menjawab: “Berniat menghilangkan ketidaktahuan dari diri sendiri dan orang lain.”

3. Menjaga syari’at Islam.

Hendaknya orang yang menuntut ilmu berniat menjaga dan membela syari’at karena buku-buku tidak mungkin membela syari’at. Seandainya seorang ahlu bid’ah mendatangi sebuah perpustakaan yang sangat penuh dengan buku-buku agama, kemudian berbicara dan menetapkan suatu bid’ah, tidak ada satu bukupun yang sanggup membantahnya. Berbeda jika dia berbicara dan menetapkan sebuah bid’ah di hadapan seorang ahlul ‘ilmi, maka ahlul ilmi tersebut akan dapat menolak dan membantahnya dengan al Qur`an dan as Sunnah.

Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban thalibul ilmi untuk menuntut ilmu dengan niat menjaga syari’at, karena melindungi syari’at hanya bisa dilakukan oleh pasukannya. Hal ini seperti senjata. Sandainya kita memiliki berbagai senjata yang penuh dalam gudang, tentu harus ada orang-orang yang menggunakan senjata-senjata tersebut. Karena senjata-senjata tersebut tidak bisa menembak dengan sendirinya.

Kemudian bid’ah juga terus berkembang. Kadang ada bid’ah yang tidak terdapat dalam buku para ulama salaf tetapi sekarang muncul.

Oleh karena itu, orang-orang sangat membutuhkan ulama yang sanggup membantah usaha para ahlul bid’ah dan seluruh musuh Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan ilmu syar’i yang bersumber dari al Qur`an dan as Sunnah.

4. Lapang dada dalam perbedaan pendapat (yang mungkin terjadi).

Masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para ulama ada beberapa jenis :

a. Masalah yang sudah jelas dan tidak membuka kesempatan bagi siapa saja untuk ijtihad; maka tidak boleh ada perbedaan.

b. Masalah yang masih terbuka kesempatan untuk berijtihad, maka perbedaan pendapat di sini masih bisa ditolerir.

Pendapat anda tidak bisa menjadi argumen (hujjah) yang harus dipaksakan terhadap orang lain. Sebab kalau kita katakan bisa, maka akan berlaku pula sebaliknya, pendapat orang lain menjadi argumen (hujjah) yang harus dipaksakan kepada anda. Tentu ini untuk masalah-masalah yang banyak menggunakan logika (dan tidak ada nash secara tegas yang menjelaskannya) serta masih terbuka kesempatan untuk berbeda pendapat. Tetapi perbedaan pendapat ini tidak boleh kita jadikan alasan untuk mencela dan mencaci maki orang lain dan tidak boleh menjadi sebab permusuhan. Para sahabat dahulu pernah berbeda pendapat dalam beberapa masalah ijtihadiyah, tetapi hal itu tidak menjadikan mereka bermusuhan satu sama lain.

Berbeda halnya dengan orang yang menentang dan tidak mau mengikuti jalan para ulama dari kalangan para sahabat Nabi, tabi’in dan yang mengikuti jalan mereka, seperti masalah-masalah ‘aqidah, maka semua pendapat yang bertentangan dengan para ulama terdahulu yang sholeh tidak bisa diterima.

5. Mengamalkan ilmu

Tholibul ilmi berkewajiban mengamalkan ilmunya, baik dalam masalah aqidah, ibadah, akhlak, adab dan mu’amalah. Amal adalah buah hasil ilmu. Orang yang berilmu seperti pembawa senjata. Senjatanya bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya ataupun sebaliknya. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits Rosululloh shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Abu Darda` berkata: “Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di hadapan Alloh pada hari Qiamat adalah orang ‘alim yang tidak mengambil manfaat dari ilmunya.” (HR: Ad Darimi no 264)

Kalau ada perintah dari Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala dan rasul Nya, maka percaya dan yakinilah kebenarannya kemudian amalkan, tanpa harus bertanya: Untuk apa? Bagaimana? Karena kebiasaan seperti ini bukan cara-cara orang-orang yang beriman.Sebagaimana firman Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala:

Para sahabat dahulu, jika Rosululloh shallallaahu 'alaihi wa sallam berbicara dengan mereka dan memerintahkan mereka dengan barbagai hal yang kadangterasa aneh dan asing menurut pemahaman mereka, tetapi mereka menerimanya (secara langsung) tanpa bertanya: Untuk apa? Bagaimana? Berbeda dengan orang-orang sekarang, yang jika diajak dengan sabda Rosululloh shallallaahu 'alaihi wa sallam kemudian terasa asing di pikirannya, langsung mengajukan berbagai pertanyaan yang sebenarnya ingin menolak perintah itu, bukan ingin tahu. Oleh karena itu mereka (orang-orang sekarang) terhalang untuk mendapat taufik.

6. Mengajak ke jalan Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala.

Tholibul ilmi hendaklah menjadi da’i yang menyeru ke jalan Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala dalam berbagai kesempatan, di masjid, pertemuan-pertemuan, pasar dan sebagainya. Kita lihat Rosululloh shallallaahu 'alaihi wa sallam setelah menerima wahyu menjadi nabi dan rasul, beliau tidak tinggal diam di rumahnya, beliau berda’wah dan terus berusaha. Kita tidak ingin bahwa para thalibul ilmi hanya menjadi orang-orang yang menukil dari buku, tetapi menjadi ulama yang senantiasa beramal.

7. Hikmah dalam bertindak.

Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

Termasuk sikap hikmah bahwa thalibul ilmi mendidik orang dengan akhlak yang menjadi perilakunya dan mengajak kepada agama Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala, dengan menghadapi dan mensikapi setiap orang dengan cara yang sesuai dengan kondisinya.

Al Hakim (orang yang berhikmah) adalah orang yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Hendaknya setiap tholibul ilmi memilih cara dakwah yang paling mudah diterima. Kalau kita lihat banyak diantara da’i sekarang, karena semangatnya yang berlebihan akhirnya membuat orang lari dari da’wahnya. Kalau ada orang yang melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala, anda akan lihat ia (da’i) mensikapinya dengan keras, yang membuat orang-orang lari dari da’wahnya.

8. Sabar ketika belajar.

Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Itu adalah diantara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS: Huud: 49)

9. Menghargai dan memuliakan ulama`.

Tholibul ilmi harus menghormati dan menghargai ulama`, punya sikap lapang dada terhadap perbedaan pendapat para ulama, bersedia memaafkan kesalahan orang yang keliru dalam aqidah. Ini point yang penting sekali. Karena ada sebagian orang yang mencari-cari kesalahan orang lain, agar bisa melakukan perbuatan yang tidak layak terhadap mereka dan merusak wibawa mereka. Ini termasuk kesalahan yang paling besar. Kalau ghibah terhadap orang awam termasuk dosa besar, maka ghibah terhadap orang ‘alim jauh lebih besar, karena ghibah terhadap orang ‘alim akibatnya bukan hanya terhadap dirinya sendiri tetapi juga terhadap ilmu syari’ah yang dibawanya.

10. Berpegang teguh kepada Al Qur`an dan As Sunnah.

11. Teliti dengan sumber dan isi ilmu yang akan dipelajari

12. Bersemangat untuk memahami ayat dan hadits sesuai dengan yang dikehendaki Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala dan rasul Nya shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Comments

Popular posts from this blog