MAKA NIKMAT ALLAH MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN

“Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman 13)
Suatu kali, Rasulullah SAW keluar menemui para sahabat, lalu beliau membacakan surat ar-Rahman kepada mereka dari awal hingga akhir, namun para sahabat tetap terdiam. Melihat hal itu, Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah membacakan surah ini kepada para jin, dan mereka lebih bagus sambutannya daripada kalian, ketika bacaanku sampai firman Allah tersebut diatas, mereka mengatakan, “Ya Allah, tiada sedikitpun dari nikmat-Mu yang kami dustakan,segala puji bagi-Mu.” (HR. at-Tirmidzi).
I’tiraf (pengakuan) dan kesedaran seseorang bahawa dirinya tengah menyandang nikmat dan kurnia dari Allah, merupakan rukun pertama dari syukur. Tak akan wujud syukur secara lisan dan perbuatan sebelum adanya pengakuan di hati. Dan sebenarnyalah, ketika seseorang mengingat-ingat apa yang ada pada dirinya, tentu ia tidak akan mengelak besarnya nikmat Allah atas dirinya. Mujahid bin Jabr menafsirkan ayat diatas, “Bukankah nikmat itu nyata atas kalian, kalian bergelimang dengan nikmat itu dan tidak mungkin mengingkarinya.”
Kerananya, seorang ulama tabi’in Yunus bin Ubaid menuntut seseorang untuk bersyukur dengan cara mengingatkan nikmat. Ketika seseorang datang kepada beliau dan mengeluhkan kondisinya yang serba susah, rezekinya mepet, keperluhan banyak hingga seakan dia tidak merasakan satu kenikmatan apapun di muka bumi ini. Kepadanya Yunus berkata, “Bagaimana jika sebelah matamu saya hargai dengan seratus ribu dirham, relakah Anda?” Dia menjawab, “Tentu saja tidak.” Yunus bertanya, “Bagaimana dengan sebelah tanganmu?” Dia menjawab,”Tidak juga.” Yunus bertanya lagi, “Bagaiman jika sebelah kakimu dihargai seratus dirham?” Dia menjawab, “Tidak mau.” Yunus menanyakan satu persatu anggota badan dan dijawab dengan jawaban yang sama. Lalu Yunus berkata, “Aku lihat kamu memiliki ratusan juta dirham tapi mengapa merasa tidak memiliki apa-apa?”.
Ya, seringkali seseorang hanya melihat nikmat yang disandangnya. Padahal, sebenarnya apa yang masih dimilikinya jauh lebih berharga dari apa yang belum dimilikinya, atau apa yang hilang darinya. Seandainya manusia hendak menghitung nikmat Allah yang ada pada dirinya, niscaya tidak akan mampu menghitungnya. Hal tersebut disebabkan terlalu banyaknya nikmat yang telah diberikan Allah. Kaki kita masih boleh digunakan untuk berjalan, tangan kita masih boleh digunakan untuk beraktiviti, mata kita masih boleh melihat, telinga kita masih bisa mendengar, jantung kita masih berdetak, setiap hari kita menghirup oksigen dengan gratis, dan berbagai nikmat lainnya yang tak bisa tergantikan dengan apapun.
Alangkah bijaknya sikap yang ditunjukkan oleh Syuraih al-Qadhi, ulama kenamaan dikalangan tabi’in. Dimana beliau bertahmid empat kali tatkala mendapat musibah, tentu setelah membaca kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un). Ketika ditanya tentang empat tahmidnya, beliau beralasan,
§ Tahmid pertama karena beliau menyadari anugerah taufik kepadanya, sehingga beliau bisa membaca kalimat istirja’ yang bernilai dzikrullah
§ Tahmid kedua, karena Allah telah menganugerahkan kesabaran, dimana orang yang bersabar mendapat tiga karunia dan masing-masing karunia lebih baik daripada dunia dan seisinya, yakni shalawat dari Allah, rahmat-Nya dan hidayah-Nya.
§ Tahmid ketiga, karena musibah yang terjadi tidak lebih besar dari itu. Faktanya, masih banyak orang yang mendapatkan musibah yang lebih besar dari apa yang beliau alami.
§ Adapun tahmid yang keempat, karena musibah yang terjadi adalah musibah dunia, bukan musibah akhirat.
Rasa syukur yang beliau ungkapkan, juga berangkat dari kesadaran akan besarnya nikmat yang Allah curahkan kepadanya. Kita lihat bedanya dengan seseorang yang tidak pandai bersyukur. Ketika ia kehilangan uang seratus ribu, ia menyesal bukan kepalang, mengumpat tidak karuan, padahal di rumahnya, di tabungannya masih tersimpan jutaan atau ratusan juta rupiah. Hilangnya syukur ini juga berangkat dari hilangnnya pengakuan bahwa ratusan juta rupiah yang dimilikinya itu semata-mata adalah nikmat dari Allah.
Syukur adalah pengikat sekaligus pengundang nikmat. Sejauh mana hamba mau bersyukur, sebanyak itu pula Allah akan menambahkannya atau bahkan melipatgandakannya. Ini berlaku untuk semua nikmat. Nikmat sehat, harta, ilmu maupun amal. Perbedaan kuantitas dan kualitas antara kita dengan para ulama salaf yang shalih, sebenarnya juga tergantung dengan selisih kesyukuran kita dibanding mereka. Allah berfirman, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS an-Nahl 78)
Ketika lahir, kita sama dengan mereka, tidak tahu apa-apa. Lalu Allah memberi bekal yang sama pula, pendengaran, penglihatan dan hati maupun akal. Jika hasil akhirnya berbeda, itu karena tingkat syukurnya berbeda. Karenanya Allah berfirman, “…agar kamu bersyukur.”
Mungkin kita mendengarkan apa-apa yang tidak layak kita dengar, lalu tidak mau mendengar apa-apa yang mestinya kita dengar. Kita masih melihat hal-hal yang tidak layak kita lihat, sementara hal-hal yang mestinya kita lihat dan kita baca justru terlewat dari kita. Kita juga berfikir dalam hal yang tak layak kita pikirkan, sementara perkara yang urgen untuk kita pikirkan justru luput dari perhatian kita.
Para salaf juga mensyukuri ilmu dengan amalnya, sehingga Allah memberi banyak tambahan ilmu kepada mereka. Sebagian mereka berkata, “Kami menjaga ilmu dan hafalan kami dengan mengamalkannya.”
Terkait dengan harta, pun demikian. Maksiat yang merupakan musuh dari syukur menjadi penghalang datangnya rejeki, sebagaimana dipahami para ulama, juga disebutkan dalam hadits, meskipun ada yang dhaif, namun ada yang dihukumi “hasan lighairihi”. Jika seseorang tetap mendapatkan rejeki padahal dia bermaksiat, kemungkinannya ada dua. Pertama, dia terhalang untuk mendapatkan tambahannya. Kemungkinan kedua, rejeki itu sebagai ’istidraj’ dari Allah, tetap diberi rejeki tapi sebenarnya tidak diridhai. Kemudian Beliau Rasulullah SAW membaca firman Allah, ”Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang Telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang Telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS al-An’am 44)
Ya Allah, jadikan kami termasuk hamba yang besrsyukur. Amin
Comments
Post a Comment