NENEK PEMUNGUT DAUN

 

Oleh M. Edi S. Kurniawan
Kiriman dari seorang sahabat, diambil dari milis kisah hikmah :

Kisah ini membuat bulu roma  saya  merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati,  kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw? Insya Allah, Bermanfaat dan dapat dipetik Hikmahnya.

"Nenek Pemungut Daun"
Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Selesai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan solat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar masjid dan membongkok-bongkok di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia tinggalkan.

Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.
Banyak pengunjung masjid jatuh hiba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. selesai solat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa.


Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa  ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat:-

pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahsianya;
kedua, rahsia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahsia itu.
"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat junjungan Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah.
Kelak jika saya mati, saya ingin junjungan Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahawa saya membacakan salawat kepadanya."


p/s mengalir airmata saya membaca cerita ini. Sudahkah kita berselawat kepada Rasulullah, kalau belum marilah kita berbuat demikian.

Abu Hurairah berkata: Nabi SAW bersabda:
Apabila seorang mukmin membaca selawat untukku, maka selawat itu diambil oleh malaikat juru pati dengan izin Allah disampaikan ke kuburku. Maka malaikat itu berkata, 'Hai Muhammad! Polan bin Polan, umatmu telah membaca selawat untuk engkau'. Kata Nabi SAW, 'Sampaikan kepadanya dariku sepuluh selawat dan katakan kepadanya, 'telah seharusnya bagimu mendapat syafaat dari beliau (Nabi SAW)'. Maka malaikat tadi terus naik ke atas sehingga sampai ke Arasy dan berkata, 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya Polan bin Polan telah membaca selawat sekali untuk kekasihMu. Maka Allah berfirman, 'Sampaikan kepadanya dari Aku sepuluh selawat'. Kemudian Allah SWT menciptakan dari tiap-tiap huruf pada selawat itu akan satu malaikat yang mempunyai 360 kepala, tiap-tiap kepala mempunyai 360 wajah/muka, dan tiap-tiap wajah terdapat 360 mulut dan tiap-tiap mulut terdapat 360 lidah guna berbicara dan memuji Allah dengan 360 macam, dan pahala kesemuanya itu dicatat untuk orang yang membaca selawat kepada Nabi SAW sampai hari kiamat'

Wassalam,

Comments

Popular posts from this blog