Buku 76 Dosa Besar yang Dianggap Biasa
Perlu
kita ingat bahwa ubudiyah praktis yang Allah bebankan atas kita pada
dasarnya berkisar pada dua dasar: Menjalankan perintah dan menjauhi
larangan. Dan buku 76 dosa-dosa besar ini adalah rambu-rambu larangan
dalam agama Islam yang tidak boleh diabaikan oleh seorang muslim, baik
dalam masalah akidah, ibadah, maupun mu’amalah. Maka sungguh sangat
beruntung orang yang dapat membacanya, lalu memahaminya dan menjauhinya;
karena dosa-dosa besar tersebut semuanya mendatangkan azab dan murka
Allah bahkan bisa mengantarkan kepada kebinasaan di dunia dan akhirat.
Maka buku kita ini harus dibaca oleh setiap muslim, agar senantiasa
menjadi pengingat agar tidak terjerumus ke dalam dosa besar. Allah
Ta’ala telah mengingatkan,
إِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيْمًا.
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang
kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu
(dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia
(surga). (An-Nisa`: 31).
TENTANG PENULIS
Beliau ialah: Abu Abdillah, Muhammad bin Ahmad bin Utsman
at-Turkamani kemudian ad-Dimasyqi, salah seorang ulama besar madzhab
Syafi’i dan salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau
digelari dengan Syamsuddin, dan lebih dikenal dengan: al-Hafizh
adz-Dzahabi.
Adz-Dzahabi adalah seorang ulama hebat yang mumpuni, sampai al-Hafizh
Ibnu Katsir berkata tentang beliau, Syaikh-syaikh ahli hadits dan para
penghafal ulungnya telah ditutup dengan beliau. Al-Hafizh besar, Ibnu
Hajar al-Asqalani Rahimahullah, karena begitu kagum terhadap
adz-Dzahabi, beliau pernah berkata, Aku pernah meminum air zamzam (dan
berdoa) agar aku dapat mencapai derajat Imam adz-Dzahabi dalam
menghafal.
Adz-Dzahabi memang seorang penghafal ulung dan ulama yang agung. Dan di antara karya tulis yang berhasil beliau selesaikan, dan sebagai bukti derajat keilmuan beliau yang tinggi, yang di kemudian hari menjadi rujukan asasi bagi para ulama dan penuntut ilmu adalah:
Adz-Dzahabi memang seorang penghafal ulung dan ulama yang agung. Dan di antara karya tulis yang berhasil beliau selesaikan, dan sebagai bukti derajat keilmuan beliau yang tinggi, yang di kemudian hari menjadi rujukan asasi bagi para ulama dan penuntut ilmu adalah:
1. Tarikh al-Islam, dan telah diterbitkan lengkap setebal 53 jilid.
2. Mizan al-I’tidal, terbit setebal 4 jilid.
3. Siyar A’lam an-Nubala`, telah terbit lengkap setebal 28 jilid.
4. Al-Ibar Fi Khabari Man Ghabar, terbit 5 jilid.
5. Al-Mughni fi adh-Dhu’afa`, 2 jilid.
6. Al-Kasyif, 3 jilid.
7. Tadzkirah al-Huffazh, 3 jilid.
8. Dan lain-lain.
2. Mizan al-I’tidal, terbit setebal 4 jilid.
3. Siyar A’lam an-Nubala`, telah terbit lengkap setebal 28 jilid.
4. Al-Ibar Fi Khabari Man Ghabar, terbit 5 jilid.
5. Al-Mughni fi adh-Dhu’afa`, 2 jilid.
6. Al-Kasyif, 3 jilid.
7. Tadzkirah al-Huffazh, 3 jilid.
8. Dan lain-lain.
KEISTIMEWAAN TERBITAN DARUL HAQ
(1). Buku ini, yang judul aslinya adalah al-Kaba`ir, yang bermakna:
Dosa-dosa Besar, baik yang asli berbahasa Arab maupun edisi terjemahan
telah beredar luas di dunia Islam dalam berbagai versi, dan tak
terkecuali Indonesia. Namun sangat disayangkan bahwa versi yang sudah
beredar luas dan diterjemahkan tersebut adalah al-Kaba`ir yang telah
ditambah dengan berbagai kebatilan, khurafat, kisah dan dongeng dusta,
hadits-hadits lemah bahkan maudhu’ (palsu), yang sama sekali tidak
sesuai dengan latar belakang Imam al-Hafizh adz-Dzahabi, penulis, yang
seorang ulama hadits terkemuka. Ini dari satu sisi. Dari sisi yang lain,
sebagian muatan, uraian, hadits-hadits serta hukum-hukum hadits yang
justru merupakan bagian asli dari al-Kaba`ir yang dituangkan oleh
adz-Dzahabi, telah dikurangi, dan ini semakin menambah buram kandungan
buku.
Dan sebagaimana yang dijelaskan oleh muhaqqiq, Muhyiddin Mistu, setelah melalui penelitian yang panjang dan melelahkan, bahwa komplikasi terhadap kitab al-Kaba`ir ini dilakukan oleh seorang yang tidak diketahui. Dan campur aduk yang dilakukan terhadap karya monumental ini adalah suatu kezhaliman terhadap penulisnya. Hasil kesimpulan beliau adalah bahwa manuskrip al-Kaba`ir ternyata ada dua. Salah satunya adalah yang telah dirubah, dikurangi dari aslinya dan ditambah-tambah dengan yang bukan bagian darinya. Dan yang kedua adalah yang masih asli sebagaimana yang ditulis oleh Imam adz-Dzahabi, dan inilah yang kami terjemahkan dan kemudian kami terbitkan. Maka buku yang sedang kita resensi ini adalah terjemahan dari al-Kaba`ir yang asli yang selamat dari penambahan dan pengurangan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, serta bersih dari unsur bid’ah, khurafat dan dusta.
(2). Semua riwayat dan hadits yang dijadikan dalil untuk setiap
masalah oleh Imam adz-Dzahabi, ditakhrij berdasarkan standar disiplin
ilmu hadits oleh Muhyiddin Mistu, sehingga derajat hadits-hadits dan
atsar-atsar benar-benar dapat dipertang-gungjawabkan secara ilmiah.
(3). Dilengkapi dengan biografi Imam adz-Dzahabi, penulis.
ISI BUKU SECARA UMUM
1. Di bagian awal buku, muhaqqiq menulis pengantar yang menyeluruh
dan patut dicermati oleh setiap penuntut ilmu; berkaitan dengan banyak
hal penting berkaitan dengan buku kita ini, di antaranya adalah sorotan
kompleks terhadap al-Kaba`ir yang telah terlanjur terkenal di dunia
Islam, dengan segala permasalahan di dalamnya.
2. Di bagian mukaddimah, muhaqqiq mengulas secara apik tentang
definisi dosa besar dari segi bahasa dan istilah syariat. Di sini beliau
menyebutkan sejumlah definisi oleh para ulama, bahkan dari sebagian
sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dan dari sana beliau kemudian
menyimpulkannya. Harus diingat bahwa dosa itu memang ada yang besar dan
ada juga yang kecil; maka bagaimana membedakan di antara keduanya? Semua
ini dapat anda temukan di dalam buku kita ini.
3. Muhaqqiq juga menulis biografi Imam al-Hafizh adz-Dzahabi
Rahimahullah dengan cukup memadai dan padat, yang dapat menggambarkan
sosok penulis yang merupakan salah seorang ulama hadits terkemuka dan
salah seorang ahli sejarah yang hebat, yang dibuktikan dengan banyaknya
karya tulis beliau yang monumental dalam kedua disiplin ini.
4. Di susul dengan mukaddimah penulis, Imam adz-Dzahabi, yang juga
mengulas tentang berbagai sisi yang berkaitan dengan dosa-dosa besar.
5. Dosa paling pertama yang dicantumkan Imam adz-Dzahabi adalah
Syirik (mempersekutukan Allah). Dan ini menunjukkan bahwa syirik memang
dosa yang paling besar dan paling mengerikan. Tak terbayangkan murkanya
Allah terhadap seorang makhluk yang tak ada nilainya bagi Allah, yang
lancang memper-sekutukanNya dengan sesuatu. Ini kemudian didukung oleh
dalil-dalil:
Allah Ta’ala berfirman,
{إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ
ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا
عَظِيْمًا}
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia
telah berbuat dosa yang besar. (An-Nisa`: 48). Allah Ta’ala juga
berfirman,
{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ
الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ}
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka
pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
dan tak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim (yang
mempersekutukan Allah) itu. (Al-Ma`idah: 72). Dan masih banyak
dalil-dalil lain dari al-Qur`an dan as-Sunnah yang dijadikan dasar oleh
adz-Dzahabi Rahimahullah. Dan di akhir poin ini, beliau menutupnya
dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ
فَاقْتُلُوْهُ.
Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah dia. Ini menunjukkan
bahwa Imam adz-Dzahabi berpendapat bahwa orang yang melakukan syirik
besar maka dia telah murtad dari Islam.
Pendengar Radio Raja` yang dirahmati Allah…. Dosa-dosa besar
berikutnya adalah: Membunuh, sihir, meninggalkan shalat, tidak membayar
zakat, durhaka kepada kedua orang tua, memakan harta riba, dan
seturusnya, dibahas satu demi satu dengan hujjah dan dalil dari
al-Qur`an dan as-Sunnah yang shahih. Yang menarik untuk dicermati adalah
isbal (memanjangkan pakaian hingga menutupi kedua mata kaki), yang
diremehkan oleh banyak laki-laki dari kaum Muslimin, disebutkan oleh
Imam adz-Dzahabi sebagai dosa besar ke 52. Dan ini beliau dukung dengan
sebelas hadits shahih.
Di antaranya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَهُوَ فِي النَّارِ.
Sarung (pakaian) yang lebih bawah daripada kedua mata kaki, maka itu adalah di neraka. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5787)
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda,
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا.
Allah tidak akan melihat pada Hari Kiamat nanti kepada orang yang
menjulurkan (memanjangkan) sarung (pakaian)nya sebagai suatu keangkuhan.
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5788).
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda,
ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا
يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ: الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ،
وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ.
Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah pada
Hari Kiamat, dan Allah tidak akan menyucikan mereka (dari dosa-dosa),
serta mereka akan mendapatkan azab yang pedih, yaitu: Orang yang
memanjangkan pakaiannya melebihi mata kaki, orang yang suka
mengungkit-ungkit kebaikan yang diberikannya kepada orang lain, dan
orang yang gemar melariskan barang dagangannya dengan sumpah dusta.
(Diriwayatkan oleh Muslim no. 106).
Tiga hadits ini saja sudah lebih dari cukup menunjukkan bahwa
memanjangkan pakaian hingga menutupi mata kaki memang merupakan dosa
yang mengerikan. Lalu apakah masih ada di antara kaum Muslimin yang
berani mengatakan bahwa apabila itu dilakukan tanpa didasari oleh
kesombongan dan keangkuhan, maka tidak apa-apa? Cobalah perhatikan sabda
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam,
إِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيْلَةِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيْلَةَ.
Jangan sekali-kali engkau memanjangkan pakaianmu melebihi mata kaki,
karena itu termasuk keangkuhan, dan sesungguhnya Allah tidak menyukai
keangkuhan. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 4084, dan dishahihkan oleh
al-Albani).
Artinya: Isbal itu sendiri adalah keangkuhan; maka baik yang tidak
didasari oleh keangkuhan apalagi yang didasari oleh keangkuhan, semuanya
adalah haram. Logika redaksinya kurang lebih berbunyi begini: Bunuh
diri karena putus asa adalah haram, maka apakah bunuh diri yang tidak
didasari oleh putus asa menjadi tidak haram? Begitulah isbal.
Maka buku kita ini, 76 Dosa Besar yang dianggap biasa, mudah-mudahan
menjadi peringatan Allah bagi kita yang senantiasa terpampang di depan
mata kita. Miliki dan bacalah, insya Allah akan banyak memberi manfaat
bagi diri dan keluarga, sebagai pengingat agar tidak terjerumus ke dalam
dosa-dosa besar.
Sumber: www.darulhaq.com
Comments
Post a Comment