Bolehkah Melamakan Sujud Terakhir dengan Doa Buatan Sendiri?







Fauzan Qalam Ardhi ( Pemuda Muhammadiyah )


Sumber : Al-qur'an dan sunnah referensi dari Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah

Mungkin selama kita sholat, ada sebagian kawan kita, ayah, ibu saudara, waktu sujud terakhir, lama sekali sujudnya, dikeranakan berdoa (doa buatan sendiri) ketika sujud terakhir, apakah doa itu pakai bahasa Melayu/daerah/ ataupun berbahasa arab.


Berikut penjelasannya:


1. *Berdoa di sujud terakhir dengan doa buatan sendiri baik dalam hati maupun dilafazkan



Haruslah diketahui bahwa shalat itu adalah ibadah mahdah yang dalam pelaksanaannya harus dilakukan sesuai dengan yang dituntunkan Rasulullah saw baik mengenai gerakan-gerakannya maupun bacaan-bacaannya. Hal ini sebagaimana diperintahkan Rasulullah saw dalam hadis riwayat al-Bukhari dari Malik ibn Huwairisi, bahwa Nabi bersabda:



Artinya:“Salatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat saya shalat.”(Bukhary)


Oleh karena itu tidak boleh kita menambah-nambah dari apa yang dituntunkan Rasululullah saw, termasuk dalam hal berdo’a ketika ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, maupun pada waktu tahiyyat. Memang ada kesan bahwa pada waktu ruku’ dan sujud kita boleh memperbanyak doa, dan terkesan doa itu tidak saja dari apa yang dituntunkan Rasulullah saw, tapi juga yang kita maui. Hal ini karena menurut Rasulullah saw, pada waktu shalat hubungan hamba dengan Allah yang paling dekat ialah ketika melakukan sujud. Oleh kanena itu kita diperintahkan banyak berdo’a pada waktu sujud tersebut. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah:



“Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Hamba yang paling dekat kepada Tuhannya adalah hamba yang sedang sujud, maka perbanyaklah do’a oleh kamu sekalian pada waktu sujud.”(HR.Muslim)


Namun demikian memperbanyak do’a pada waktu sujud atau ruku’ tidak berarti menambah dengan do’a yang tidak diterima dari Rasulullah saw. Memperbanyak do’a dalam hadis di atas antara lain mengandung arti mengulang-ngulang suatu do’a dalam sujud atau ruku’. Pengertian ini ditunjuki oleh hadis Nabi saw antara lain yang diriwayatkan Muslim dari Aisyah bahwa Aisyah berkata:

Artinya:“Bahwasanya Rasulullah saw memperbanyak do‘a pada waktu ruku’ dan sujudnya dengan membaca: “Subhanaka Allahumma rabbana wa bihamdika Allahummagfirli”.”(HR. Muslim)

bisa juga memperbanyak doa ini

Artinya:“Diriwayatkan dari Hudaifah ra ia berkata: Aku pernah salat bersama Nabi saw, di dalam rukuknya beliau membaca: Subhaana rabbiyal-‘adziim dan dalam sujudnya: Subhana rabbiyal-a’la.” [HR. Muslim

atau

Diriwayatkan dari Aisyah ia berkata: Bahwasanya Rasulullah saw dalam rukuk dan sujudnya beliau membaca: Subbuhun Quddusun Rabbul Malaikati war-Ruuh.” [HR. Muslim]

Dalam hadis di atas yang dimaksud dengan memperbanyak do’a dengan bacaan subhanaka, ialah mengulang-ngulang bacaan do’a tersebut. Memperbanyak do’a dalam ruku’ dan sujud bisa juga berarti membaca beberapa do’a pada setiap kali ruku’ dan sujud. Memang terdapat beberapa riwayat dari Nabi saw yang menyebutkan berbagai macam bacaan (doa) pada waktu ruku’ dan sujud. Hanya saja untuk makna yang terakhir ini tidak/ belum ditemukan adanya riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw dalam satu kali ruku’/ sujud ada membaca berbagai macam doa. Atas dasar ini Tim Fatwa dalam memahami memperbanyak do’a cenderung kepada makna yang pertama bahwa memperbanyak doa itu dalam arti mengulang­-ngulang bacaan suatu do’a. Hanya saja yang perlu diketahui lebih lanjut bahwa memperpanjang/ memperlama ruku’ atau sujud dengan mengulang-ngulang

2. Melamakan Sujud Terakhir*
 
Bacaan suatu do’a itu tidak berarti hanya diperlakukan khusus dalam salah satu ruku’ atau sujud, umpamanya sujud yang terakhir yang diperpanjang, melainkan memberlakukan sama dalam semua ruku’ atau sujud, karena tidak diperoleh keterangan bahwa Nabi saw hanya memperlama/ memperpanjang salah satu ruku’nya atau sujudnya saja. Justru Nabi saw menyamakan lamanya itu dalam semua ruku’dan semua sujud, hal ini seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim:

Artinya: “Bahwasanya Rasulullah saw menjadikan ruku’nya dan berdirinya setelah ruku’, sujudnya dan duduknya di antara dua sujud hampir sama lamanya.”

Kesimpulan

1. Kita dilarang berdoa dengan buatan sendiri ketika dalam sujud, karena itu tidak ada tuntunan. "ingat kata nabi : shalatlah kamu seperti melihatku sholat, kalau tidak sama, bererti kita tidak taat kepada nabi

2. Kita dilarang untuk melamakan sujud terakhir dibanding yang lain, karena nabi menjadikan ruku, berdirinya, sujud, duduknya, hampir sama semua lamanya, "ingat kata nabi : shalatlah kamu seperti melihatku sholat,kalau tidak sama,bearti kita tidak taat kepada nabi

3.Memperbanyak doa yang dimaksud nabi dalam sujud ialah mengulang" bacaan yang telah ia perintahkan. "ingat kata nabi : shalatlah kamu seperti melihatku sholat,kalau tidak sama,bearti kita tidak taat kepada nabi

4. Mari kita meninggalkan dan meluruskan pemahaman tentang ini . Jangan mengada-ngada perkara yang tidak ada tuntunan dari nabi dalam ibadah

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)

Rasul menyuruh sholat seperti ia ,Rasul memperbanyak doa dalam sujud sesuai yang ia lakukan, maka kita harus meniru dia dalam beribadah, dan jangan coba-coba membuat jalur sendiri,sehingga mendahului Allah (karena tidak diperintahkan allah) dan mendahului Rasul (karena tidak ada perintah dari Rasul)

kemudian ayat di atas diperkuat hadish berikut

Dari‘Aisyah berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): "Barangsiapa yang mengada-adakan (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kami ini, apa-apa yang tidak ada darinya (yang tidak kami perintahkan,) maka ia tertolak."

Sholatlah kamu seperti melihat ku sholat,kalau kita membuat cara-cara baru/bacaan baru, dan tidak pula diperintahkan , maka jelas itu merupakan perkara yang tertolak.


5. Kalau mau berdoa harus sesudah salam, Karena kalau dalam sholat "ingat kata nabi : shalatlah kamu seperti melihatku sholat, kalau tidak sama, berarti kita tidak taat kepada nabi

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan tidak mengeraskan suara ! sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang melewati batas “ (al-a’raf : 55)

Dan berdzikirlah dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. [QS. al-A’raf (7): 205]

ayat ayat ini jelas menyuruh untuk TIDAK MENGERASKAN SUARA

Hai manusia, kecilkan suaramu, sebab kamu tidak menyeru kepada orang yang tuli dan jauh, melainkan kamu menyeru kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia bersamamu. [HR. Muslim]


dari hadits di atas dijelaskan bahwa Rasulullah menyeru manusia untuk mengecilkan suaranya, karena yang kita seru tidaklah jauh dan tidaklah tuli.


http://www.sangpencerah.com/2013/08/bolehkah-melamakan-sujud-terakhir.html

Comments

Popular posts from this blog