- SELAMAT MELAYARI BLOG INI SEMOGA KITA MEMPEROLEHI MANFAATNYA DAN HARAP DISEBARLUASKAN KEPADA PEMBACA YANG LAIN PULA BERSESUAIAN DENGAN SABDA RASULULLAH S.A.W "SAMPAIKAN DARIPADAKU WALAUPUN DENGAN SATU AYAT"

Saturday, September 2, 2017

6 lafadz ULUL ALBAB dalam AL-QURAN



PEMBAHASAN
       “Ulul Albab” disebutkan dalam al Quran sebanyak 16 kali. Ulul albab dengan dhammah atau ” di depan” disebut tujuh kali yaitu dalam surat Al baqarah:269, Ali Imran: 7, Ar ra’du :19, Ibrahim:52, Al zumar :9,18, Shad : 29, manakala ulil albab dengan fathah atau “di atas” disebut sebanyak empat kali yaitu dalam surat Al baqarah :179,197,al maidah :100, al thalaq :10.Dan dengan kasrah atau “dibawah”disebut lima kali yaitu dalam surah Ali imran :190, Yusuf :111, Shad :43,al Zumar :21, al mu’min :54.”Ulul Albab adalah kelompok manusia yang menjadikan kisah silam sebagai pengajaran dan iktibar untuk memperbaiki diri dan meningkatkan taraf kehidupan supaya mereka mencapai kejayaan dengan petunjuk Ilahi”.
         Ayat-ayat tersebut adalah sebagaimana yang akan diuraikan berikut ini:
1. Surat Al baqarah :179
 
ولكم فى القصاص حيوة ياولى الالباب لعلكم تتقون
Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan)hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal supaya kamu bertaqwa”.
Penjelasan:
         Ayat ini menunjukkan hukum Qishas dalam Islam sama sekali bukan untuk membalas dendam, namun ini sebuah pintu untuk kelangsungan hidup manusia.
         Demi keadilan dan keteraturan, hukum Qishas merupakan sebuah pencegah pembunuhan yang sering terjadi dan mengakhiri kebiasaan beberapa suku jahiliyah dimana sebuah pembunuhan seseorang menjadi dalih untuk melakukan beberapa pembunuhan dan masyarakat dapat terus hidup dengan damai.
         Ayat ini menurut teks Al-qur’an yang terdiri dari sepuluh butir dan begitu menarik sehingga ungkapan yang pertamanya dijadikan sebuah moto Islam yang digunakan oleh umat Islam secara umum.
         Maksud dari ayat diatas yaitu agar kita dapat menjaga diri kita sendiri terhadap kejahatan.
2. Surat Al baqarah :197
الحَجُّ أشْهُرٌ معلومت فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولاجدال فى الحج وماتفعلوامن خيريعلمه الله وتزود وا فان خيرالزاد التقوى والتقون يأولى الألباب(البقره:
Pelaksanaan haji (naik haji) adalah dalam bulan-bulan yang dimaklumi,barang siapa berusaha (menjalankan) haji di dalamnya,maka tidak boleh berhubungan badan,berbuat fasik,dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepadaKu wahai orang-orang yang berakal-budi”. 
Penjelasan:
         (pelaksanaan) haji(naik haji)adalah dalam bulan-bulan yang dimaklumi……
         Dalam ayat ini al Qur’an menyatakan, tatacara berhaji seharusnya dipenuhi dalam bulan-bulan yang sudah diketahui, bukannya setahun penuh. Kitab-kitab hadis, tafsir al Qur’an dan fiqih mengatakan bahwa ibadah besar ini hanya dapat dipenuhi pada bulan Syawal,Dzulqa’dah dan selama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan hari kedua belas dan bagian yang lainnya dapat dikerjakan selama waktu yang panjang ini.
         Barang siapa berusaha (menjalankan) haji di dalamnya, maka tidak boleh berhubungan badan, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.
         Bagian dari ayat ini memberitahukan, orang-orang yang menjadikan pelaksanaan haji sebagai suatu kewajiban atasnya, dengan cara mengenakan baju ihram dan ikut serta dalam manasik haji, seyogianya menjaga diri mereka sendiri bahkan dari berhubungan badan yang di sahkan dan melakukan kejahatan. Mereka harus menghindari perdebatan sia-sia dan keji atau ucapan buruk serta segala sesuatu yang sejenis karena tempat tersebut adalah tempat untuk ibadah, kesungguhan hati, dan menjauhi kesenangan dunia material. Keadaan ini harus di laksanakan sedemikian rupa sehingga hubungan persaudaraan dan persatuan dapat di perkuat. 
         Kmudian, al Qur’an menambahkan, Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan,niscaya Allah mengetahuinya. 
  
         Inilah ganjaran pertama yang dianugerahkan kepada orang yang beramal saleh karena kebahagiaan seorang mukmin sejati,pada tingkatan pertama,adalah mengetahui bahwa Tuhanya mengetahui amalan baik yang ia lakukan untuknya (mendapatkan ridho-Nya)
         …Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa
         Dalam bagian ayat ini perintah yang dibebankan kepada orang-orang yang beriman adalah perintah yang berkaitan dengan menyiapkan perbekalan.
         Konon, katanya, pada saat datangnya islam beberapa orang, khususnya  dari Yaman, biasa melakukan perjalanan ke Makkah untuk melaksanakan haji tanpa pembekala untuk makan mereka dengan dalih bahwa mereka akan ditolong allah.Padahal Allah menganugrahi rezeki hanya melalui proses alamiah dan dengan sarana yang bisa dilakukan. Karena itu,dalam bagian ayat ini,al-Quran memerintahkan para peziarah haji untuk membawa perbekalan terdahulu bagi seluruh perjalanan dan memulainya dengan membawa perbekalan tersebut.
         Istilah”menyiapkan perbekalan “barangkali menunjukkan pada aspek spiritual.Dengan kata lain,selain perkenalan materiil ini,ada pula perbekalan penting lainnya yang seharusnya dipersiapkan,yaitu perbekalan “takwa “dan “kesalehan “.
         Frase ini memiliki isyarat minim pada suatu fakta bahwa dalam perjalanan haji ada banyak hal yang dapat dijadikan perbekalan spiritual yang tidak boleh diabadikan. Di Makkah, gambaran islam, suasana pengorbanannya Ibrahim –sang pahlawan tauhid –tampak hidup dan beberapa manifestasi khusus berkenaan dengan keagungan Allah nyata terlihat,yang tidak dapat disasikan di tempat –tempat lain. Orang –orang yang memiliki ruh yang sigap dapat memperoleh perbekalan spiritual ini  dari perjalanan unik bagi kehidupan mereka didunia dan di akhirat.
         Kemudian,al-Quran mengakhiri ayat tersebut dengan ungkapanya,…Dan bertakwalah kepada-ku wahai orang-orang yang berakal –budi.
         Frase terakhir menegur para pemilik akal –budi seraya mengatakan bahwa mereka harus bertakwa karena mereka yang bertakwalah yang akan menikmati keuntungan tertinggi hasil dari proses pendidikan yang luhur ini, sedangkan yang lainnya hanya menikmati bagian yang sedikit saja.
3. Al baqarah :269
يؤتى الحكمة من يشاء ومن يؤت الحكمة فقد اوتى خيرا كثيرا وما يذكر إلا اولولالباب
Dia memberikan kebijaksanaan kepada yang Dia kehendaki, dan barang siapa yang telah diberi kebijaksanaan, sesungguhnya telah diberi kebaikan yang melimpah, namun tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang-orang yang berakal”.
Penjelasan:
         Istilah al-Quran hikmah, disini diterjemahkan dengan makna pengetahuan, pengertian tentang rahasia-rahasia, kesadaran terhadap fakta-fakta, dan pencapaian realitas.Allah mengaruniakannya kepada orang-orang tertentu berkat kesalehan, kesucian, dan perjuangan mereka. Mereka mengetahui perbedaan antara godaan setan dengan ilham ketuhanan, antara kepalsuan dan kebenaran. Tiada yang bisa menikmati keistimewaan ini, kecuali mereka yang memiliki akal (kepandaian) yang sesuai
         Dia memberikan kebijaksanaan kepada yang Dia kehendaki, dan barang siapa yang telah diberi kebijaksanaan, sesungguhnya telah diberi kebaikan yang melimpah, namun tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang-orang yang berakal.
         Istilah Arab al-bab adalah bentuk jamak dari lubb dengan makna hati, cinta, akal, dan pemahaman. Tidak setiap orang yang memiliki kebijaksanaan termasuk ke dalam ulul al-bab, karena sebutan ini hanya untuk mereka yang memiliki pemahaman, yang menggunakan akal mereka sepenuhnya untuk menemukan jalan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.
         Namun demikian, Imam Shadiq as dalam sebuah hadis pernah berkata bahwa hikmah adalah pengetahuan dan menjadi terpelajar dalam bidang agama, sedangkan hadis yang lain mengisyaratkan bahwa hikmah adalah ketaatan pada Allah dan para Imam.

4. Surat Ali imran :7
هوالذي أنزل عليك الكتب منه ءاايت محكمت هن أم الكتب وأخر متشبهت فأماالذين فى قلوبهم زيغ فيتبعون ماتشبه منه ابتغاء تأويله ومايعلم تأويله إلاالله والرسخون فى العلم يقولون ءامنا به كل من عند ربنا ومايذكر إلاأولواالألباب
Dialah yang menurunkan al-Kitab kepadamu; di dalamnya terdapat ayat-ayat yang jelas yang menjadi dasar bagi Kitab ini, sedangkan yang lain adalah yang maknanya tersembunyi. Tetapi bagi mereka yang di dalam hatinya terdapat keburukan, mereka mengikuti sebagian dari yang maknanya tersembunyi itu, berusaha untuk menyebabkan keburukan dengan mencari-cari (sendiri) maknanya dengan penafsiran mereka sendiri, sedangkan tiada yang mengetahui ( penafsirannya yang tersembunyi itu) kecuali Allah, dan mereka yang memiliki pengetahuan yang kuat dan mendalam. Mereka berkata, “Kami percaya kepadanya, seluruhnya berasal dari Tuhan kami;dan tiada yang bisa memikirkannya kecuali orang yang berakal.”
Penjelasan:
         Ayat-ayat yang bermakna Jelas (Muhkamat) danbermakna Tersembunyi (Mutasyabihat) dalam al Quran.
         Dialah yang menurunkan al-kitab kepadamu; di dalamnya terdapat ayat-ayat yang jelas yang menjadi dasar bagi Kitab ini, sedangkan yang lain adalah yang maknanya tersembunyi…
         Ayat-ayat yang maknanya tersembunyi ini, jika di lihat sekilas, terlihat rumit karena tingginya tingkatan topik atau karena faktor-faktor lain di dalamnya. Ia merupakan kriteria untuk memuji manusia agar memisahkan ulama yang sejati dengan orang-orang yang keras kepala dan tidak setia. Maka, selanjutnya, ayat ini menyebutkan sebagai berikut.
Tetapi bagi mereka yang di dalam hatinya terdapat keburukan, mereka mengikuti sebagian dari yang maknanya tersembunyi itu, berusaha untuk menyebabkan keburukan dengan mencari-cari (sendiri) maknanya dengan penafsiran mereka sendiri, sedangkan tiada yang mengetahui penafsirannya (yang tersembunyi itu) kecuali Allah, dan mereka yang memiliki pengetahuan yang kuat dan mendalam…
         Lantas ayat ini menunjuk kepada mereka, yang berkat cahaya dari pemahaman mereka yang tepat atas makna ayat-ayat muhkamat dan mutasyibihat, dengan menyatakan sebagai berikut. 
         ……Mereka berkata, “Kami percaya kepadanya, seluruhya berasal dari Tuhan kami;…
         Ya! Memang:
       dan tiada yang bisa memikirkannya kesuali orang-orang yang berakal….
         Melalui ayat diatas,diketahui bahwa ayat-ayat al Quran dibagi kedalam dua kelompok. Sebagian ayat memiliki konsep yang demikian jelas, sehingga tidak membuka peluang bagi penolakan, justifikasi, atau penyalahgunaan. Ayat-ayat ini disebut ayat yang muhkamat. Akan tetapi ada beberapa ayat yang karena tingginya topik atau bahasan jauh diatas jangkauan kita, seperti alam-alam yang tak terlihat, alam kebangkitan, dan sifat-sifat Allah, sedemikian tingginya sehingga makna-makna rahasianya yang tersembunyi, dan kedalaman realitasnya, membutuhkan kemampuan ilmiah tertentu untuk memahaminya.Ayat-ayat ini disebut dengan ayat mutasyabihat.
5. Surat Ali imran :190
إن فى خلق السموات والأرض واختلف اليل والنهار لأيت لأولى الألبب
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta perubahan malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
Penjelasan:
         Dalam kitab tafsir karya Fakhr Razi, diriwayatkan sebuah hadis dari sayyidina Ali as yang berkata,”Rasulullah saw biasa membaca ayat-ayat ini sebelum shalat-shalat malamnya.
         Dalam hadis yang lain, kita juga diseru untuk membaca ayat-ayat suci ini.
         Ayat-ayat diatas juga menjelaskan tentang:
o Penciptaan dunia ini memiliki suatu tujuan
o Mengetahui eksistensi adalah tahapan utama untuk mengetahui Allah
o Mereka yang berakal melihat pengetahuan Allah dari segala sesuatu di dunia
o Semakin bijak seseorang, semakin banyak yang dapat ia ketahui
6. Surat Al maidah :100
قل لا يستوى الخبيث والطيب ولوأعجبك كثرة الخبيث فاتقواالله يأولى الألبب لعلكم تفلحون
Katakanlah, “Keburukan dan kebaikan itu tidaklah sama, meskipun banyaknya keburukan itu bisa menarik hati kalian. “Maka bertaqwalah kepada Allah, wahai orang-orang berakal, aar kalian menjadi sejahtera (beruntung)”.
         Makna “keburukan” dan “kebaikan” berkenaan dengan keberadaan manusia, gaya hidup, harta, penghasilan, makanan, dan materi.
         Standar nilai (berguna)sesuatu terletak pada “baik” dan “buruk” itu sendiri, bukan terletak pada mayoritas (banyaknya pengikut sesuatu) atau minoritas (sedikitnya pengikut sesuatu) nilai sesuatu itu terletak pada akal sehat dan ketetapan, ketaqwaan yang terdapat dalam kitab suci, oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap mayoritas dan jumlah yang banyak yang bisa memesonakan, yang menjerumuskan. Dan sering kali sekelompok orang-orang yang berakal, yakni orang-orang bijak dan pembela kebenaran, bukan termasuk dalam golongan mayoritas.Menurut mazhab Qurani, ketidaksalehan seseorang merupakan tanda akan kebodohannya.
7. Surat Yusuf :111
لقد كان فى قصصهم عبرة لأولى لألباب ماكان حديثا يفترى ولكن تصديق الذي بين يديه وتفصيل كل شيء وهدى ورحمة لقوم يؤمنون
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.
Penjelasan:
         Ayat diatas menjelaskan tentang ‘ibrah dan ta’bir (yang  berarti berlalu),dan lewat dari satu tahap ke tahap lain. Ketika Yusuf mengatakan bahwa inilah arti mimpiku dahulu, itu berarti mimpi itu menjelma menjadi kenyataan.
         Kata ‘ibrah  juga berarti berlalu dari apa yang bisa dilihat dan didengar kedalam keadaan dimana hal itu tidak bisa dilihat atau didengar, namun tetap ada.
         Istilah qashashihim barang kali merujuk kepada kisah semua nabi, atau barang kali ia berfokus pada cerita-cerita tentang Yusuf,Ya’qub, saudara-saudara Yusuf, al-Aziz dari Mesir, dan kejadian-kejadian yang pahit dan yang manis yang dikaitkan dengan mereka dalam cerita ini.
         Bagaimanapun, ayat terakhir dari surah ini bersifat komprehensif dan berurusan dengan semus isu surah ini dengan cara yang ringkas. Ia mengatakan kepada kita bahwa semua cerita al Quran suci, termasuk cerita tentang Yusuf dan saudara-saudaranya dan juga tentang para nabi, orang-orang beriman dan orang-orang kafir, adalah berguna dan mendidik bagi semua orang yang tidak takut menggunakan akal pikiran mereka.
         Dari kejadian ini dapat diambil kesimpulan bahwa kisah-kisah nabi itu semuanya benar. Kisah-kisah ini mengajarkan kepada kita tentang sebab-sebab kemenangan dan kekalahan, sukses dan  kekecewaan, kebahagiaan dan kesengsaraan, ketinggian derajat dan kemerosotan. Secara ringkas mereka menunjukkan kepada kita apa yang bernilai dan apa yang tidak bernilai dalam hidup kita. Akan tetapi hanya  kaum Ulil Albab (orang-orang yang memiliki pemahaman dan akal budi) saja yang mampu atau bisa memetik pelajaran dari pelajaran-pelajaran mendidik yang diajarkan. Al Quran mengatakan, Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. 
         Apapun yang dibutuhkan oleh manusia dan identifikasi semua hal yang merupakan dasar sejati kebahagiaan manusia, telah dijelaskan dalam ayat-ayat ini.
         Karena alasan ini al Quran menjadi sumber semua petunjuk bagi mereka yang mencarinya dan sumber barakah bagi semua kaum beriman. Ayat diatas selanjutnya mengatakan,……dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.        
            
8. Surat Ar Ra’d :19
افمن يعلم انما انزل إليك من ربك الحق كمن هو أعمى إنما يتذكراولوالالباب
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”.
Penjelasan :
         Ayat ini menjelaskan bahwa ketentraman hati orang-orang yang beriman itu tidak bisa dilihat oleh mata (abstrak) dan yang bisa merasakan betapa indahnya ketentraman hati karena iman, yaitu hanya orang-orang yang berakal saja yang bisa mengambil pelajaran dari semuanya.
         Ulul albab dalam ayat ini adalah sekumpulan manusia pakar rujuk masyarakat demi memperoleh petunjuk dan hidayah dari Allah. 
 9. Surat Ibrahim :52
هذا بلاغ للناس ولينذروا به وليعلموا انما هو إله واحد وليذ كر أولوالالباب
Ini adalah penjelasan bagi manusia, dan supay mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwa  Dia adalah Tuahan yang  Maha Esa dan agar ulul albab mengambil pelajaran”.
Penjelasan :
         Allah menegaskan bahwa: Ini yakni ayat-ayat yang dibacakandi atas yang mengeluarkan manusia dari aneka kegelapan menuju cahaya yang benerang adalah penjelasan yang cukup dan sempurna bagi manusia  untuk kebahagiaan dunia dan akhirat mereka.dan disamping itu ia juga diturunkan supaya mereka diberi peringatan dengannya oleh siapa pun yang memahami dan mempercayai. Dan supaya mereka yang belum percaya dan tahu mengetahui bahwa Dia yang Maha Kuasa yang wujud Nya diakui oleh fitrah yang suci adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar ulul Albab yakni mereka yang tidak dikeruhkan akalnya oleh satu kerancauan mengambil pelajaran.
10. Surat Shad :29
 كتب أنزلناه إليك مبارك ليدبروااياته وليتذكروا أولوالالباب

 “Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”.
Penjelasan :
         Setelah menurunkan kepadamu Al-kitab yang bermanfaat kepada manusia, yang membimbing mereka kepada sesuatu yang memuat kebaikan dan kebahagiaan dalam persoalan agama maupun dunia, yang memuat berbagai macam kemaslahatan agar dipikirkan oleh orang-orang yang mempunyai akal, yang telah diterangi oleh Allah sanubari mereka, sehingga menempuh petunjuk dan mengikuti bimbingan-Nya dalam perbuatan-perbuatan mereka, disamping mengingat nasihat-nasihat dan larangan-larangan-Nya serta dapat mengambil pelajaran dari umat terdahulu. Sehingga, mereka tidak lagi menyalahinya dan tidak ditimpa oleh apa yang pernah menimpa umat-umat terdahulu, dan tidak dibinasakan seperti halnya mereka yang telah melakukan kedurjanaan kerusakan dimuka bumi.
         Kesimpulan dari ayat diatas adalah bahwa, al Quran itulah yang membimbing kepada tujuan-tujuan yang mulia dan prinsip-prinsip akal yang benar.
11. Surat Shad :43 
    
ووهبناله اهله ومثلهم معهم رحمة مناوذكرى لأولى الالباب
“Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran”.
Penjelasan :
         Ayat ini menceritakan tentang keluarga Nabi Ayyub yang dikumpulkan setelah bercerai berai dan berpisah-pisah dari keturunannya yang diperbanyak sehingga menjadi dua kali lipat dari sebelumnya, yakni sebagai rahmat dan peringatan bagi orang-orang yang berakal sehat agar bisa diambil pelajaran dan mengetahui bahwa rahmat itu dekat kepada orang-orang yang berbuat baik, bahwa beserta kesusahan pasti ada kemudahan dan manusia itu tidak boleh putus asa terhadap dibukanya jalan keluar, setelah kita mengalami kesusahan.
         Dengan pelbagai karakter dan kelebihan ulul albab, mereka juga diingatkan supaya memiliki kesabaran supaya semua langkah mereka membuahkan hasil yang lebih.
12. Az zumar :9
أم من هو قانت اناء الليل ساجد وقائما يحذر الاخرة ويرجو رحمة ربه قل هل يستوى الذين يعلمون والذين لايعلمون إنمايتذكر اولوالالباب
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung )ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu  malam dengan bersujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat  dan mengharapkan rahmat Tuhan-nya?katakanlah,’’Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’’sesungguhnya orang yang berakallah yang bisa menerima pelajaran”.
Penjelasan:
         Apakah orang yang taat itu seperti halnya orang yang bermaksiat.Tentu keduanya tidak sama. Kemudian Allah menegaskan tentang ketidaksamaan antara keduanya dan memperingatkan tentang keutamaan ilmu dan betapa mulianya beramal berdasarkan ilmu.
         Kesimpulan dari ayat diatas adalah sesungguhnya yang mengetahui perbedaan antara orang yang tahu dan orang yang tidak tahu hanyalah orang yang mempunyai akal pikiran sehat, yang dia pergunakan untuk berpikir.
13. Surat Az zumar :18    
الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه أولئك الذين هداهم الله وأولئك هم أولوالالباب
“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya, mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.
Penjelasan:
         Perintah menyampaikan kabar gembira, bahwa mereka akan mendapatkan kenikmatan yang kekal dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.Yaitu, orang-orang yang telah mendapat taufiq Allah kepada jalan yang benar dan tepat sasaran, bukan orang-orang yang berpaling dari mendengarkan kebenaran dan menyembah sesuatu yang tidak memberi bahaya maupun manfaat.
         Dan mereka itulah, orang-orang yang mempunyai akal sehat dan fitrah yang lurus, yang tidak taat kepada hawa nafsu dan tidak dikalahkan oleh waham. Mereka memilih yang terbaik diantara dua perkara dalam agama maupun dunia mereka.
14. Az zumar :21
 
ألم ترأن الله أنزل من السماء ماء فسلكه ينابيع فى الأرض ثم يخرج به زرعا مختلفا الوانه ثم يهيج فتراه مصفرا ثم يجعله حطاما إن فى ذلك لذكرى لأولى الألباب
“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber dibumi, kemudian di tumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kami melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya yang pada demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”.
Penjelasan :
Salahu : Dia memasukannya
Yanabi : Mata air dan aliran-alirannya
Alwanuhu : Jenis-jenis dan macam-macamnya
Yahiju : Kering
Huthaman : Hancur berderai-derai
         Menurut pengertian secara Ijmal, setelah Allah swt menceritakan tentang akhirat dengan sifat-sifatnya yang menyebabkan ingin memperolehnya dan semakin rindu kepada-Nya, maka dilanjutkan dengan menyebutkan tentang sifat-sifat dari dunia yang menyebabkan orang tidak menyukainya. Seperti, bahwa dunia ini segera sirna dan cepat selesai, sebagai peringatan agar orang jangan terpedaya dengan semaraknya dunia dan cenderung kepada kelezatannya. Allah memisalkan keadaan ini seperti tumbuh-tumbuhan yang diairi dengan air hujan. Dengan air itu, maka keluarlah tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam jenis dan ragamnya. Namun, kemudian kamu lihat tumbuh-tumbuhan itu mengering dan hancur berderai-derai. Alangkah cepat sirnanya dan betapa mudah selesainya.
         Alangkah mirip keadaan dunia ini dengan keadaan tumbuh-tumbuhan tersebut. Dunia ini begitu cepat selesai dan segara sirna. Maka, hal itu hendaklah diambil pelajaran oleh orang-orang yang berakal, dan hendaklah mereka tahu bahwa dunia ini bagai pasar yang terselenggara sesudah bubar. Dan jangan sampai mereka terperdaya dengan keelokan dunia, dan jangan tergoda dengan keindahannya.
15. Surat Al Mu’min : 54
هدى وذكرى لأولى الباب
“Untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir’’.
Penjelasan :
         Ayat diatas menjelaskan tentang petunjuk dan peringatan yang diturunkan kepada nabi Musa untuk umatnya serta peringatan akan hal-hal yang dilarang oleh Allah serta melakukan perintahnya yang dijelaskan pada kitab taurat.
       Ulul albab dalam ayat ini bukan hanya milik orang islam. Ia adalah fenomena semula jadi masyarakat dunia supaya mereka kembali kepada kehendak Allah, agar mereka senantiasa sadar bahwa mereka adalah yang memerlukan petunjuk dan hidayahnya.


16. Surat Ath-Thalaaq :10
اعد الله لهم عذابا شديد فاتقوالله يااولى الألباب الذين امنوا قد أنزل الله إليكم ذكرا  
“Allah menyediakan bagi mereka adzab yang keras. Maka bertaqwalah kepada Allah, hai orang-orang yang mempunyai akal”.
Penjelasan :
         Allah menyediakan bagi mereka adzab yang keras, yakni di alam akhirat disertai adzab yang menimpa mereka di dunia. Kemudian setelah menceritakan mereka, Allah Ta’ala berfirman :
 Maka, bertaqwalah kepada Allah,hai orang-orang yang mempunyai akal. Maksudnya pemahaman yang benar dan lurus. Dengan kata lain, janganlah kalian menjadi seperti mereka wahai orang-orang yang berakal, sehingga kalian akan tertimpa apa yang dulu pernah menimpa mereka.
         Yaitu orang-orang yang beriman, yakni mereka yang mempercayai Allah dan Rasul-Nya.Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, yakni al Quran al karim.

ULUL ALBAB (orang yang berakal dan berfikir)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Manusia merupakan makhluk yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan makhluq lain, ini semua dikarenakan manusia dibekali potensi yang luar biasa yaitu berupa akal, akal juga yang membedakan manusia dari mahluk Allah yang lain, keintlektualan dan bentuk jasad sempurna yang dianugrahkan Allah kepadanya. Sehingga manusia mampu berfikir dan memungkinkan pula baginya untuk mengamati, menganalisis apa-apa yang di ciptakan Allah di alam bumi ini. Kemampuan manusia untuk berfikir inilah yang menjadikannya sebagai makhlukNYA yang diberi amanat untuk dapat beribadah kepadaNYA serta diberi tanggung jawab dengan segala pilihan dan keinginan. Akal pula yang menjadikan manusia terpilih untuk menjadi khalifah di muka bumi ini dan berkewajiban untuk membangunnya dengan sebaik-baiknya.
Dalam diri manusia terdapat dua daya sekaligus, yaitu daya fikir yang berpusat di kepala dan daya rasa (qalbu) yang berpusat di dada. Untuk mengembangkan daya ini telah ditata sedemikian rupa oleh Islam, misalnya untuk mempertajam daya rasa dapat dilakukan dengan cara beribadah seperti sholat, zakat, puasa, haji dan lain-lain dan untuk mempertajam daya fikir perlu arahan ayat kauniyah yakni ayat-ayat mengenai visi cosmos yang menganalisa dan menyimpulkan yang melahirkan gagasan inovatif demi pengembangan peradaban manusia sebagai kholifah di muka bumi.
Sesuatu yang sangat agung dari petunjuk al-Qur’an, berkenaan dengan visi pemikiran dan ilmu pengetahuan, adalah bahwa al-Qur’an memberi penghargaan terhadap ulul albab dan kaum cendikiawan, atau kaum intlektual.Allah memuji mereka dalam banyak ayat dalam surat-surat Makiyah dan Madaniyah. Term ulul albab atau Ulil albab terulang dalam al-Qur’an sebanyak 16 kali. Sembilan diantaranya terdapat dalam al-Qur’an Makiyah dan tujuh lainnya terdapat dalam al-Qur’an Madani.
Al-Qur’an mengekspos keluhuran orang yang beriman dan berilmu sebagai hamba-hamba Allah yang memiliki kedudukan tinggi. Bahkan, diberi gelar khusus untuk mereka yang memiliki kedudukan ini, yang mampu mendayagunakan anugrah Allah (potensi akal,kalbu, dan nafsu) pada sebuah panggilan, yaitu ulul albab. Allah tidak menafikan potensi yang dianugrahkan oleh-NYA kepada manusia agar tidak tergiur dan terpesona oleh hasil dirinya sendiri, sehingga keterpesonaan itu membuat dirinya menjadi hamba dunia, karena kecintaan yang berlebihan pada dunia.
Sejalan dengan kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki oleh manusia yang dirahmatkan sang khaliq tersebut, maka manusia harus bisa memposisikan diri sebagai mahluk yang tidak hanya memikirkan atau peduli terhadap dirinya sendiri, tetapi harus senantiasa peduli dan peka terhadap keberadaan sekelilingnya, sehingga potensi fikir dan dzikir senantiasa menyelimuti aktifitasnya sehari-hari sebagai bahwa manusia adalah tidak hanya sebagai mahluk Allah yang paling sempurna tetapi juga sebagai keharusan untuk menuju insan kamil yang di dalam al-Qur’an sering disebut dengan istilah ulul albab. 
B.     Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah diatas, penulis kemudian merumusakan tiga rumusan masalah:
1.      Bagaimana pengertian Ulil Albab.
2.      Bagaimana ciri-ciri Ulil Albab.
3.  Bagaimana peran Ulil Albab dalam perkembangan kebudayaan Islam.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian 
Kata Ulil Albab dalam pengertian secara sederhana sering diartikan sebagai orang yang Berakal atau orang yang berfikir. Pengertian ini tidak salah kalau kita tinjau dari sudut istilah bahasa Indonesia. Akan tetapi, mungkin sudah waktunya kita memahami dan mendalami dengan lebih mendalam dan lebih spesifik lagi. Sehingga kita dapat merenungi secara seksama arti kata ulil albab. Sehingga setiap kita membaca ayat suci Al-Qur’an akan menjadi lebih menghayati lagi makna yang terkandung di dalam hati kita.Mari kita lihat beberapa surat di dalam Alqur'an yang mengandung kata Ulil Albab.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (Ali Imran: 190-191)

Menurut A.M. Saefudin, bahwa ulul albab adalah pemikir intlektual yang memiliki ketajaman analisis terhadap gejala dan proses alamiyah dengan metode ilmiah induktif dan deduktif, serta intlektual yang membangun kepribadian dengan dzikir dalam keadaan dan sarana ilmiah untuk kemaslahatan dan kebahagiaan seluruh umat manusia. 
ulul 
Dalam kitab-kitab terjemahan al-Qur'an, kata Ulil Albab seringkali dimaknai dengan "orang-orang yang berakal atau berpikir", karena merujuk pada kalimat di dalam Surat Ali Imran ayat 191, "dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi". Kemudian banyak yang menafsirkan bahwa "orang-orang yang berpikir" tersebut adalah para cendekiawan adalah seorang pemikir atau seorang ilmuwan. Apakah setiap orang yang melakukan aktivitas berpikir seperti mereka otomatis termasuk di dalam golongan Ulil Albab? Jawabannya adalah belum tentu, karena dalam ayat diatas sudah dipaparkan dengan begitu jelas, bahwa definisi dari Ulil Albab adalah meliputi semua yang tertulis seperti berikut

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi."

Dalam uraian di atas dapat kita lihat bahwa sebelum melakukan aktivitas berpikir, seseorang akan dikatakan sebagai Ulil Albab jika ia telah mampu melaksanakan kegiatan dzikir dalam artian selalu mengingat Allah dalam segala kondisi. Baik dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring bahkan pada saat sedang berpikir, dirinya tidak pernah terlepas dari dzikir.

Kita telah mengetahui dengan jelas bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna karena dikaruniai oleh Allah berupa akal pikiran, punya nalar untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar, mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi, jika kata ulil albab dipahami hanya sebagai ‘orang-orang yang berpikir’ seperti ayat di atas sangatlah tidak tepat, karena tidak semua orang dari kita yang berakal ini, mampu mengambil pelajaran dari kisah para nabi.

Pada kisah Nabi Ibrahim, misalnya, bagaimana mungkin Beliau tega untuk membawa, dan kemudian meninggalkan istrinya Siti Hajar r.a. yang baru melahirkan Ismail as, dan Ismail as sendiri ketika itu masih seorang bayi merah, di tengah padang pasir mekkah yang tandus, tanpa bekal dan tanpa air, selama sebelas tahun lamanya? Sementara Nabi Ibrahim sendiri setelah itu justru pulang ke istrinya yang lain, Siti Sarah r.a., dan baru kembali menyusul mereka sebelas tahun kemudian. Tindakan beliau seakan-akan sangat tidak berperi kemanusiaan dan jelas melanggar HAM. Walaupun pada akhirnya, dalam kehausan yang amat sangat, Ismail kecil menendang-nendang pasir dan muncullah dari sana sumber air zamzam. Siti Hajar yang berlari bolak-balik ke sana kemari mencari air antara bukit Shafa dan Marwa, hingga sekarang diabadikan dalam salah satu ritual ibadah haji. Baru bertahun-tahun kemudian Ibrahim a.s datang kembali ke tempat itu, untuk membangun Ka’bah bersama Ismail dan Hajar. Berabad-abad kemudian, tempat itu menjadi sebuah kota bernama Mekkah.

Berdasarkan keterangan diatas, jika kita manusia yang sudah memiliki akal, tapi masih bingung dengan takdir kita yang mungkin tidak menyenangkan, dengan musibah, dengan makna hidup, dengan perilaku para Nabi yang tidak sesuai dengan kehendak kita, bingung dengan kehidupan, bingung kenapa harus ada bencana, atau tidak mampu memahami ayat-ayat mutasyabihaat dalam al-Qur’an, artinya kita memang berakal, tapi belum termasuk ke dalam golongan yang ulil albab

B.     Ciri-ciri Ulil Albab
Adapun ciri-ciri ulul albab yang disebut dalam al-Qur’an adalah:
1.    Bersungguh-sungguh menggali ilmu pengetahuan.
Menyelidiki dan mengamati semua rahasia wahyu (al-Qur’an maupun gejala-gejala alam), menangkap hukum-hukum yang tersirat di dalamnya, kemudian menerapkannya dalam masyarakat demi kebaikan bersama. 
"Sesungghnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi ulul albab" (QS, Ali Imran, 190).
Menurut Ibn Katsir, selain mampu memahami fenomena alam dengan segenap hukumnya yang menunjukan tanda-tanda keagungan, kemurahan dan rahmat Ilahy, ulul albab juga seorang yang senantiasa berdzikir dan berpikir, yang melahirkan kekuatan intelektual, kekayaan spiritual dan keluhuran moral dalam dirinya.
Ibn Salam fisikawan muslim yang mendapatkan hadiah Nobel tahun 1979 menyatakan bahwa dalam al-Qur’an terdapat dua perintah; tafakur dan tasyakur. Tafakur adalah merenungkan serta memikirkan semua kejadian yang timbul dalam alam semesta, kemudian menangkap hukum-hukumnya yang dalam bahasa modern dikenal dengan istilah science. Sedang tasyakur adalah memanfaatkan segala nikmat dan karunia Allah dengan akal pikiran, sehingga nikmat tersebut semakin bertambah yang kemudian dikenal dengan istilah teknologi. Ulul Albab menggabungkan keduanya; memikirkan sekaligus mengembangkan dan memanfaatkan hasilnya, sehingga nikmat Allah semakin bertambah.
 "Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Jika kamu mengingkari (nikmat- Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih" (QS, Ibrahim, 7).
Manusia akan mampu menemukan citra dirinya sebagai manusia, serta mampu menaklukkan jagat raya bila mau berpikir dan berdzikir. Berpengetahuan tinggi serta menguasai teknologi.
 "Jika kamu mampu menembus (melintasi) penjuruu langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (teknologi)" (QS, Ar-Rahman, 33).

2. Selalu berpegang pada kebaikan dan keadilan.
 
Ulul Albab mampu memisahkan yang baik dari yang jahat, untuk kemudian memilih yang baik. Selalu berpegang dan mempertahankan kebaikan tersebut walau sendirian dan walau kejahatan didukung banyak orang.
"Tidak sama yang buruk (jahat) dengan baik (benar), meskipun kuantitas yang jahat mengagumkan dirimu. Bertaqwalah hai ulul albab, agar kamu beruntung" (QS, Al-Maidah, 100)
Dalam masyarakat, Ulul Albab tampil bagai seorang "nabi". Ia tidak hanya asyik dalam acara ritual atau tenggelam dalam perpustakan; sebaliknya tampil dihadapan umat. Bertabligh untuk memperbaiki ketidakberesan yang terjadi di tengah- tengah masyarakat, memberikan peringatan bila terjadi ketimpangan dan memprotesnya bila terjadi ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan.

3. Teliti dan kritis dalam menerima informasi, teori, proporsisi ataupun dalil yang dikemukakan orang lain.
 
Bagai sosok mujtahid, ulul albab tidak mau taqlid pada orang lain, sehingga ia tidak mau menelan mentah-mentah apa yang diberikan orang lain, atau gampang mempercayainya sebelum terlebih dahulu mengecek kebenarannya. 
"Yang mengikuti perkataan lalu mengikuti yang paling baik dan benar, mereka itulah yang diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah ulul albab" (QS, Az-Zumar, 18).

4. Keempat, sanggup mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu.
 
Sejarah adalah penafsiran nyata dari suatu bentuk kehidupan.

Dengan memahami sejarah kemudian membandingkan dengan kejadian masa sekarang, ulul albab akan mampu membuat prediksi masa depan, sehingga mereka mampu membuat persiapan untuk menyambut kemungkinan- kemungkinan yang bakal terjadi.

Sampai pada ciri-ciri ini, ulul albab tidak ada bedanya dengan intelektual yang lain. Tapi bila dilanjutkan, maka ada nilai tambah yang dimilikinya yang tidak dimiliki oleh seorang intelektual biasa.

5. Rajin bangun malam untuk sujud dan rukuk dihadapan Allah swt.

Ulul Albab senansiasa "membakar" singgasana Allah dengan munajadnya ketika malam telah sunyi. Menggoncang Arasy-Nya dengan segala rintihan, permohonan ampun, dan pengaduan segala derita serta kebobrokan moral manusia di muka bumi. Ulul Albab sangat "dekat" dengan Tuhannya. "(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung), ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akherat dan mengharap rahmat Tuhannya. Katakanlah: 'Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?'. Sesungguhnya, hanya ulul albab yang dapat menerima pelajaran" (QS, Az-Zumar, 9).

6. Tidak takut kepada siapapun, kecuali Allah semata.
 
Sadar bahwa semua perbuatan manusia akan dimintai pertanggungan jawab, dengan bekal ilmunya, ulul albab tidak mau berbuat semena-mena. Tidak mau menjual ilmu demi kepentingan pribadi (menuruti ambisi politik atau materi). Ilmu pengetahuan dan teknologi ibarat pedang bermata dua. 
Ia dapat digunakan untuk tujuan-tujuan baik, tapi bisa juga digunakan dan dimanfaatkan untuk perbuatan-perbuatan yang tidak benar. Tinggal siapa yang memakainya. Ilmu pengetahuan sangat berbahaya bila di tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Sebab, ia tidak akan segan-segan menggunakan hasil teknologinya untuk menghancurkan sesama, hanya demi menuruti ambisi dan nafsu angkara murkanya.
Dengan demikian, ulul albab bukan sekedar ilmuwan atau intelektual. Dalam diri ulul albab terpadu sifat ilmuwan, sifat intelektual dan sekaligus sifat orang yang dekat dengan Allah. Dalam dunia pendidikan dewasa ini, kita sangat mengharapkan perguruan tinggi mampu mencetak sosol sarjana yang mempunyai kemampuan keilmuan dan kepribadian seperti itu. Seorang sarjana yang benar-benar, bukan hanya sekedar sarjana.

C.    Peranan Ulil Albab dalam Kebudayaan Islam
Pada masa awal perkembangan Islam, sistem pendidikan dan pemikiran yang sistematis belum terselenggara karena ajaran Islam tidak diturunkan sekaligus. Namun ayat al-Quran yang pertama kali turun dengan jelas meletakkan fondasi yang kokoh atas pengembangan ilmu dan pemikiran dalam Islam. 
Atas pemikiran di atas Ahmad Syaifuddin menyatakan lebih lanjut bahwa untuk keperluan itu manusia menuntut adanya suatu sistem yang dikenal dengan istilah “pendidikan”. Dengan demikian, diharapkan manusia terutama muslim dapat menggunakan akalnya secara luas dan benar sesuai dengan konstitusi Islam. Logikanya jika seorang muslin dapat berfikir sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Al-Hadits, ia disebut Ulul Albab, yaitu manusia yang selalu menggunakan fikiran dan hati.
Dengan demikian, Ulul Albab merupakan suatu istilah Al-Qur’an maupun Al-Hadits yang ditujukan kepada manusia muslim yang sudah belajar banyak tentang ilmu-ilmu yang diturunkan oleh Allah swt, baik dalam teks-teks, kedua sumber ajaran Islam itu maupun “ayat-ayat” Allah swt yang ada di dalam alam semesta (kawniyah), dalam al-Qur’an misalnya : dinyatakan bahwa Ulul Albab ialah orang selalu mengingat Allah swt dalam keadaan berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi.
Menyadari pentingnya pendidikan, pembinaan potensi manusia menjadi tanggungjawab bersama. Tanggungjawab ini didasarkan atas motivasi dan cinta kasih yang pada hakikatnya dijiwai oleh tanggungjawab moral. Secara sadar seorang pendidik harus dapat mengembangkan kewajiban untuk membina dan memelihara anak sampai ia mampu berdiri sendiri. Sebagaimana yang diharapkan oleh pendidikan Islam yaitu menciptakan manusia yang bertaqwa kepada Allah swt.
Dalam hal ini, ilmu dan imam manjadi sumber orisinil pendidikan Islam yang sejalan dengan tuntutan kehidupan modern sekarang ini. Modernitas manusia zaman sekarang harus membuka diri kepada cita-cita hidup yang berkembang, yang membawa ketinggian martabat hidup di dunia dan yang membuka pintu yang luas untuk persiapan kehidupan akhirat.
Dalam kaitan antara pendidikan Islam dan hal-hal yang menyangkut penerapan moral atau akhlak, dalam hal ini yang terangkum dalam al-Qur’an maupun sunnah Nabi Muhammad saw, kita akan menemukan permasalahan-permasalahan itu dalam permasalahan atau pembahasan yang selalu digeluti oleh Ulama Besar Hujjatul Islam, Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali atau lebih kita kenal dengan nama Imam Al-Ghazali. Beliau adalah contoh umat Islam yang tidak sedikit waktunya dicurahkan untuk kegiatan-kegiatan dan penelaahan-penelaahan yang masih ada sangkut pautnya dengan permasalahan yang ada di dalam al-Qur’an, terutama dalam bidang pendidikan. Wawasan keilmuannya yang sedemikian luas dan mendalam serta sikap hidupnya sebagai hamba Allah swt yang konsisten terbaca dalam karangan-karangannya serta transparan dalam pola perilakunya sehari-hari.
Sistem pendidikan merupakan rangkaian dari sistem-sistem atau unsur-unsur pendidikan yang saling terkait dalam mewujudkan keberhasilannya. Ada tujuan, kurikulum, materi, metode, pendidik, peserta didik, sarana, alat, pendekatan dan sebagainya. Keberadaan satu unsur membutuhkan keberadaan unsur yang lain, tanpa keberadaan salah satu diantara unsur-unsur, pross pendidikn menjadi terhalang, sehingga mengalami kegagalan. Proses pendidikan tidak hanya ada tujuan pendidikannya, maka pendidikan tidak bisa berjalan. Ketika satu unsur dominan mendapat pengaruh tertentu, pada saat yang bersamaan unsur-unsur lain menjadi terpengaruh karena suatu pengaruh tujuan pendidikan diarahkan pada suatu aksentuasi tertentu. Maka materi, metode, sarana, pendidik, peserta didik dan unsur lainnya menyesuaikan.
Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa pendidikan dapat dilihat dari 2 sudut pandang, yaitu: sudut pandang individu dan sudut pandang masyarakat. Dari sudut pandang pertama, pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan potensi individu, sedangkan menurut pandangan kedua, pendidikan adalah usaha untuk mewariskan nilai-nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda, agar nilai-nilai budaya tersebut terus hidup dan berlanjut di masyarakat. Karena itu pendidikan merupakan aktifitas yang sudah terprogram dalam suatu sistem. Adapun perbedaan dalam setiap sistem pendidikan, tampaknya ikut dipengaruhi oleh cara pandang dari setiap masyarakat, kelompok atau bangsa masing-masing. Cara pandang ini erat kaitannya dengan latar belakang filsafat atau pandangan hidup mereka.
Gambaran tentang rangkaian pengertian dan ruang lingkup yang mendasari konsep pendidikan Islam, secara garis besarnya Imam Al-Ghazali dalam pendidikan Islam menyangkut 3 faktor utama, yaitu:
a.       Hakikat penciptaan manusia, yaitu: agar manusia menjadi pengabdi Allah swt yang taat dan setia.
b.      Peran dan tanggungjawab manusia sejalan dengan statusnya selaku abdi Allah, al-Basyr, al-Insan, al-Nas, Bani Adam maupun khalifah Allah swt.
c.       Tugas utama Rasul yaitu: membentuk akhlak yang mulia serta memberi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).
Ketiga faktor di atas merupakan dasar berpijak bagi perumusan pendidikan Islam secara umum. Dengan demikian, pendidikan Islam dapat diartikan sebagai usaha pembinaan dan pengembangan potensi manusia secara optimal sesuai dengan statusnya dengan berpedoman kepada syari’at Islam yang disampaikan oleh Rasul Allah swt agar supaya manusia dapat berperan sebagai pengabdi Allah swt yang setia dengan segala aktifitasnya guna tercipta suatu kondisi kehidupan Islami yang adil, selamat, aman, sejahtera dan berkualitas serta memperoleh jaminan hidup di dunia dan jaminan bagi kehidupan yang baik di akhirat.