- SELAMAT MELAYARI BLOG INI SEMOGA KITA MEMPEROLEHI MANFAATNYA DAN HARAP DISEBARLUASKAN KEPADA PEMBACA YANG LAIN PULA BERSESUAIAN DENGAN SABDA RASULULLAH S.A.W "SAMPAIKAN DARIPADAKU WALAUPUN DENGAN SATU AYAT"

Monday, February 23, 2015

Anggota Badan Menjadi Saksi Pada Hari Kiamat



Ketika dalam perjalanan balik dari mengambil anak Harith Imran balik dari sekolah Menengah Agama Sultan Muhammad Melaka, sempat juga bercerita tentang saksi-saksi yang terdiri dari anggota badan kita sendiri yang akan sendirinya berkata-kata melihat perbuatan kita di akhirat kelak. Wajarlah kita pantau diri kita, keraplah berzikir, jaga pendengaran, makan minum kita, arah perjalanan kita untuk mencari rezeki ....ke Masjid2 .. Allah Hu Akhbar..   

FIRMAN Allah SWT dalam surah Yasin ayat ke-65: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan (memberi peluang kepada) tangan-tangan mereka memberitahu Kami (kesalahan masing-masing) dan kaki mereka pula menjadi saksi terhadap apa yang dulu mereka usahakan.”

Menurut pandangan Ibnu Kathir dalam tafsirnya menyebut: Ini adalah keadaan kafir dan munafik pada Hari Kiamat ketika mereka mengingkari kesalahan yang sudah mereka lakukan dan mereka bersumpah mengenai apa yang sudah mereka kerjakan di dunia. Lalu Allah SWT menutup mulut mereka dan menjadikan anggota badan mereka berbicara mengenai perbuatan mereka.

Ibnu Hatim meriwayatkan daripada Anas bin Malik, beliau berkata: “Pernah sekali kami bersama Nabi SAW, Baginda tertawa hingga gigi gerahamnya jelas terlihat, kemudian Baginda bersabda: “Tahukah kamu semua mengapa aku tertawa? Aku tertawa kerana ada perdebatan di antara seorang hamba dengan Tuhannya. Hamba ini berkata: Wahai Tuhanku! Bukankah Engkau sudah memberikan rasa aman bahawa Engkau tidak akan menzalimi aku? Allah menjawab, “Benar.” Hamba itu berkata lagi, “Aku tidak akan menerima kesaksian (pengakuan) atas diriku, kecuali dari diriku sendiri.”

Allah berfirman: “Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai hisab amal perbuatanmu. Cukuplah Malaikat Kiraam al-Kaatibiin (Malaikat yang mulia, pencatat amal-amal manusia) yang menjadi saksi atas dirimu.” Maka dikuncilah mulutnya dan dikatakan kepada anggota tubuhnya, “Berbicaralah kamu!” Maka satu persatu anggota tubuhnya berbicara mengenai amal perbuatannya (yang memberatkan dirinya). Kemudian Allah SWT tidak mengacuhkan perkataan anggota-anggota tubuhnya. Allah berfirman, “Jauh sekali amal kamu ini (anggota yang sedang berbicara) dari keredaan-Ku. Tadinya Aku ingin membela (dosa-dosa) kamu.” (Hadis ini diriwayatkan juga oleh Muslim dan an-Nasa’i).

Ibnu Jarir meriwayatkan daripada Abu Musa al-Asy’ari, beliau berkata, “Seseorang Mukmin dipanggil untuk dihisab pada Hari Kiamat, lalu Allah membentangkan amal perbuatan yang berkaitan dengan dirinya dan Tuhannya. Ia mengakui perbuatannya seraya berkata. Benar wahai Tuhan, aku melakukannya, aku melakukannya, aku melakukannya.” Maka Tuhan-Nya mengampuni dosa-dosanya dan menutup dirinya daripada dosa-dosa itu, sehingga tidak ada satu makhluk pun di muka bumi yang melihat dosa-dosa itu, serta tampaklah segala kebaikannya, dan Dia menghendaki agar semua manusia melihat kebaikan itu.”

Abu Musa al-Asy’ari ra melanjutkan, “Lalu orang kafir dan munafik dipanggil untuk dihisab. Tuhan membentangkan amal perbuatannya, lalu ia mengingkarinya seraya berkata, “Wahai Tuhan, demi kemuliaan-Mu, Malaikat ini sudah mencatat mengenai diriku sesuatu yang tidak aku lakukan.”

Malaikat pun berkata kepadanya, “Bukankah kamu melakukan perbuatan ini pada waktu ini di tempat ini?” 

Tidak, demi kemuliaan-Mu wahai Tuhan, aku tidak melakukannya.” Tatkala ia berbuat demikian, Allah SWT menutup mulutnya. Abu Musa melanjutkan, “Aku menduga bahawa yang pertama kali berbicara adalah peha sebelah kanan.” Kemudian ia membaca firman Allah SWT: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka… hingga akhir ayat.” Begitulah mahkamah Allah SWT.

Justeru, apabila kita terlanjur mengerjakan sesuatu dosa, segeralah kita beristighfar memohon keampunan dan cuba hindari diri daripada mengerjakan dosa-dosa yang selanjutnya.

Mudah-mudahan Allah SWT menerima taubat dan menutup kesalahan kita seperti firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat ke-135 yang bermaksud: “Dan orang yang apabila terperosok mengerjakan kejahatan, atau menzalimi diri sendiri, nescaya mereka segera mengingati Allah SWT lalu memohon ampun kepada-Nya dari segala dosa-dosa mereka.” Wallahua’lam.

zakieusof - syukran Ustz Zahazan  
 

Saturday, February 21, 2015

Dialog Malaikat Jibril dan Rasulullah tentang Neraka

Kisah islamiah pada pagi hari ini tentang dialog antara Malaikat jibril dan Rasulullah SAW tentang Neraka.
 
Rasulullah SAW pernah mengalami kesedihan yang luar biasa sehingga sampai menitikkan air mata.

Rasulullah SAW sedih apabila nantinya ada dari umatnya yang termasuk golongan ahli neraka, karena neraka memiliki 7 buah pintu yang masing-masing disesuaikan dengan amal ibadahnya.

Kisahnya.
 
Nabi Muhammad SAW suatu ketika didatangi oleh Malaikat Jibril yang akan menurunkan wahyu dari Allah SWT mengenai neraka dan pintu-pintunya. 

Rasulullah SAW kemudian meminta Malaikat Jibril untuk menyebutkan golongan umat yang kelak akan melewati pintu-pintu itu.

"Wahai Jibril, siapakah yang akan menempati pintu pertama?" tanya Rasulullah SAW.

"Pintu pertama dinamakan Hawiyah, yang diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir," jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW Sangat Sedih.

"Lalu siapakah yang akan melewati pintu kedua? tanya Rasul kembali.

"Pintu kedua dinamakan Jahim, yang diperuntukkan bagi kaum musyrikin," jelas Malaikat jibril.

"Bagaimana dengan pintu ketiga?" tanya Rasulullah SAW kembali.

"Pintu ketiga dinamakan Saqar, yang diperuntukkan bagi kaum Shobiin atau kaum penyembah api," jawabMalaikat Jibril.

"Selanjutnya pintu keempat untuk siapa?" tanya Rasulullah SAW.

"Pintu keempat dinamakan Ladha, untuk iblis dan pengikutnya," jawab Jibril.

Rasulullah SAW terdiam sejenak, ia berharap tidak ada satu pintu neraka yang diperuntukkan bagi umatnya.
"Kemudian pintu kelima dan keenam untuk siapa?" kata Rasululah SAW.

"Pintu kelima dinamakan Huthomah, diperntukkan bagi Yahudi, sedangkan pintu keenam dinamakan Sa'ir untuk kaum kafir," jelas Malaikat Jibril.

Ada Pintu Neraka untuk Umat Muhammad.
"Wahai Jibril, sekarang ceritakanlah kepadaku tentang pintu neraka yang ke tujuh itu?" pinta Rasulullah SAW.

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Malaikat Jibril sejenak diam seperti ragu hendak menceritakannya. Akan tetapi karena Rasululah SAW terus mendesaknya, maka Malaikat Jibril tak kuasa menolaknya.

"Ya Rasulullah, pintu ke tujuh itu diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal dunia sebelum mengucapkan tobat," jelas Malaikat Jibril yang sedikit ketakutan.

Begitu mendengar penjelasan yang terkahir ini, Rasulullah SAW langsung pingsan seketika itu juga. Beliau tak menyangka bahwa umatnya pun disediakan tempat di neraka. Setelah sadar dari pingsannya, Rasululah SAW masih tampaksedih sekali. Beliau tidak dapat menahan air matanya yang mengalir deras.

Sungguh Nabi dan Rasul yang snagat peduli terhadap umatnya, bahkan setelah sepeninggalnya. 

Semoga kita mendapat syafa'at dari Rasulullah SAW ini.
Amiin.

"Wahai Jibril, aku sangat sedih sekali mendengar penjelasanmu. Apakah ada umatku nanti yang akan masuk ke pintu ke tujuh itu?" tanya Rasulullah SAW dengan kesedihan yang mendalam.

Dan ternyata Malikat Jibril mengangguk yang berarti memang ada dari umat Nabi Muhammad yang masuk ke neraka melalui pintu ke tujuh.

Namun, hanya umat Nabi Muhammad SAW yang melakukan dosa besar dan mati sebelumbertobat saja yang akan melewati pintu ke tujuh itu.
 
SURAH AL FUSSILAT




1

2

3

4

5


Anggota Badan Menjadi Saksi Pada Hari Kiamat

 

Ketika dalam perjalanan balik dari mengambil anak Harith Imran balik dari sekolah Menengah Agama Sultan Muhammad Melaka, sempat juga bercerita tentang saksi-saksi yang terdiri dari anggota badan kita sendiri yang akan sendirinya berkata-kata melihat perbuatan kita di akhirat kelak. Wajarlah kita pantau diri kita, keraplah berzikir, jaga pendengaran, makan minum kita, arah perjalanan kita untuk mencari rezeki ....ke Masjid2 .. Allah Hu Akhbar..   

FIRMAN Allah SWT dalam surah Yasin ayat ke-65: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan (memberi peluang kepada) tangan-tangan mereka memberitahu Kami (kesalahan masing-masing) dan kaki mereka pula menjadi saksi terhadap apa yang dulu mereka usahakan.”


Menurut pandangan Ibnu Kathir dalam tafsirnya menyebut: Ini adalah keadaan kafir dan munafik pada Hari Kiamat ketika mereka mengingkari kesalahan yang sudah mereka lakukan dan mereka bersumpah mengenai apa yang sudah mereka kerjakan di dunia. Lalu Allah SWT menutup mulut mereka dan menjadikan anggota badan mereka berbicara mengenai perbuatan mereka.

Ibnu Hatim meriwayatkan daripada Anas bin Malik, beliau berkata: “Pernah sekali kami bersama Nabi SAW, Baginda tertawa hingga gigi gerahamnya jelas terlihat, kemudian Baginda bersabda: “Tahukah kamu semua mengapa aku tertawa? Aku tertawa kerana ada perdebatan di antara seorang hamba dengan Tuhannya. Hamba ini berkata: Wahai Tuhanku! Bukankah Engkau sudah memberikan rasa aman bahawa Engkau tidak akan menzalimi aku? Allah menjawab, “Benar.” Hamba itu berkata lagi, “Aku tidak akan menerima kesaksian (pengakuan) atas diriku, kecuali dari diriku sendiri.”

Allah berfirman: “Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai hisab amal perbuatanmu. Cukuplah Malaikat Kiraam al-Kaatibiin (Malaikat yang mulia, pencatat amal-amal manusia) yang menjadi saksi atas dirimu.” Maka dikuncilah mulutnya dan dikatakan kepada anggota tubuhnya, “Berbicaralah kamu!” Maka satu persatu anggota tubuhnya berbicara mengenai amal perbuatannya (yang memberatkan dirinya). Kemudian Allah SWT tidak mengacuhkan perkataan anggota-anggota tubuhnya. Allah berfirman, “Jauh sekali amal kamu ini (anggota yang sedang berbicara) dari keredaan-Ku. Tadinya Aku ingin membela (dosa-dosa) kamu.” (Hadis ini diriwayatkan juga oleh Muslim dan an-Nasa’i).


Ibnu Jarir meriwayatkan daripada Abu Musa al-Asy’ari, beliau berkata, “Seseorang Mukmin dipanggil untuk dihisab pada Hari Kiamat, lalu Allah membentangkan amal perbuatan yang berkaitan dengan dirinya dan Tuhannya. Ia mengakui perbuatannya seraya berkata. Benar wahai Tuhan, aku melakukannya, aku melakukannya, aku melakukannya.” Maka Tuhan-Nya mengampuni dosa-dosanya dan menutup dirinya daripada dosa-dosa itu, sehingga tidak ada satu makhluk pun di muka bumi yang melihat dosa-dosa itu, serta tampaklah segala kebaikannya, dan Dia menghendaki agar semua manusia melihat kebaikan itu.”

Abu Musa al-Asy’ari ra melanjutkan, “Lalu orang kafir dan munafik dipanggil untuk dihisab. Tuhan membentangkan amal perbuatannya, lalu ia mengingkarinya seraya berkata, “Wahai Tuhan, demi kemuliaan-Mu, Malaikat ini sudah mencatat mengenai diriku sesuatu yang tidak aku lakukan.”

Malaikat pun berkata kepadanya, “Bukankah kamu melakukan perbuatan ini pada waktu ini di tempat ini?” 

Tidak, demi kemuliaan-Mu wahai Tuhan, aku tidak melakukannya.” Tatkala ia berbuat demikian, Allah SWT menutup mulutnya. Abu Musa melanjutkan, “Aku menduga bahawa yang pertama kali berbicara adalah peha sebelah kanan.” Kemudian ia membaca firman Allah SWT: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka… hingga akhir ayat.” Begitulah mahkamah Allah SWT.

Justeru, apabila kita terlanjur mengerjakan sesuatu dosa, segeralah kita beristighfar memohon keampunan dan cuba hindari diri daripada mengerjakan dosa-dosa yang selanjutnya.

Mudah-mudahan Allah SWT menerima taubat dan menutup kesalahan kita seperti firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat ke-135 yang bermaksud: “Dan orang yang apabila terperosok mengerjakan kejahatan, atau menzalimi diri sendiri, nescaya mereka segera mengingati Allah SWT lalu memohon ampun kepada-Nya dari segala dosa-dosa mereka.” Wallahua’lam.

zakieusof - syukran Ustz Zahazan
 
 

Wednesday, February 18, 2015

Boleh dibuat rujukan utk para suami
isteri..

'Walau baru sehari, saya amat rindukan 
dia...'15 Februari 2015, Pulau Melaka.
 
Ikuti luahan hati DATIN TUAN SABARIAH 
TUAN ISHAK, isteri bekas Mursyidul Am 
Pas, Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat dalam
wawancara eksklusif bersama wartawan
Sinar Harian, ROSMIZA KASIM dan SITI 
FATIHAH AWANG
 
di kediaman beliau sehari selepas
pemergian suami yang dicintai itu.“Nanti 
abang tak dok (meninggal dunia) lepas ni, sapo nak jago Yah,” itulah kata-kata
yang membuatkan hati saya sedih dan sayu
apabila mengenangkan suami yang baru 
sehari meninggalkan saya buat selama-
lamanya.
 
Kata-kata abang itu yang diluahkan tiga
hari sebelum meninggal dunia, ketika 
dirawat di Hospital Universiti Sains 
Malaysia (HUSM) itu saya sambut dengan 
senyuman, sambil memegang tangan insan
yang selama ini berkongsi hidup suka dan
duka dengan saya.

Sambil menggenggam tangan abang, saya 
kata “anak-anak kita kan ada, mereka
boleh jaga saya sampai bila-bila.
Abang janganlah risau,” walaupun dalam
hati saya ketika itu sebak tidak terkata.

(Perasaan yang ditanggung itu diluahkan 
Tuan Sabariah sambil menyapu air mata
dengan tisu yang dihulurkan  saudara-mara yang datang menziarahi keluarganya di
kediamannya).

Kini, anak-anaklah yang akan menjadi 
peneman saya, menghilangkan kesunyian 
hidup saya. Walaupun baru sehari, saya 
mengakui saya sangat merindui beliau.

Dengan izin, hari ini (semalam) saya dan
semua anak-anak awal-awal pagi lagi ke 
kubur. Dalam keadaan sayu hati dan reda 
dengan ketentuan ALLAH SWT, saya sedekahkan Al-Fatihah dan ayat suci al-Quran kepada 
suami tercinta di perkuburannya.

Saya reda dan saya juga tidak 'berhutang' apa-apa 
lagi dengan abang. Saya memang menjaga 
abang sepenuh  hati saya sebagai seorang
isteri sebagaimana yang  abang mahukan 
selama ini, walaupun saya juga kadang
kala diuji dengan kesihatan yang tidak 
menentu.
 
Sebelum ini, makan, minum dan pakaian 
abang dijaga dengan baik. Makanan 
sentiasa terhidang untuk suami
tersayang dan tidak pernah sekalipun 
saya menyuruhnya
mengambil sendiri.
 
Cuma, saya perasan satu kelainan kerana
beberapa bulan lalu, abang kadangkala
menyediakan sendiri minumannya tanpa 
bantuan saya.
 
Saya menghormati abang, memang abang 
seorang insan istimewa yang tiada galang 
gantinya bagi saya. (Beliau terus menyapu air mata dan kemudiannya cuba memujuk 
diri dengan melemparkan senyuman kepada
hadirin).
 
Biarpun abang seorang menteri besar dan
pemimpin masyarakat, namun abang bukanlah seorang yang cerewet,
terutamanya dalam soal memilih makanan.
 
Senang sangat, malah saya yakin setiap 
isteri di dunia ini mengimpikan seorang 
suami yang 'mudoh baso' (senang kira)
malah tidak keterlaluan jika saya 
katakan, saya antara  yang bertuah 
kerana memiliki
abang.
 
Masakan kampung memang menjadi keutamaan
abang. Sedap atau tidak bukanlah satu 
kepentingan. Apa yang pasti, itulah menu
pilihan, tambahan pula jika disajikan 
dengan ikan darat, ditambah pula kuih 
paling digemari, lompat tikam serta jala
emas.
 
Mengimbas semula kisah hidupnya sebagai
suami isteri,tuan Sabariah juga 
memberitahu setiap malam dia akan 
mengurut dan menyapu minyak di tubuh
Tok Guru sebelum tidur).
 
Sentiasa saya ingat, kata-kata abang yang memberitahu,
tidak ada harta yang banyak boleh 
ditinggalkan untuk anak-anak. Semuanya 
sudah diberikan. Harta yang dimaksudkan
adalah ilmu untuk menjadikan anak-anak 
yang soleh, berguna kepada agama dan
bangsa.
 
Memang abang pentingkan ilmu kepada anak-
anak, kerana baginya, ilmulah darjat yang
paling tinggi di akhirat.
 
Itulah yang sentiasa menjadi pesanan 
abang kepada semua anak-anak.
 
Bukan sahaja pentingkan ilmu, malah 
abang juga seorang  yang penyayang. Masih terbayang
-bayang lagi tiga hari sebelum abang 
menghembuskan nafas terakhir, kami ketawa bersama apabila
dia mengenyit mata kepada saya ketika 
terbaring di katil hospital.
 
Malah saya membalasnya dengan senyuman 
yang penuh ikhlas dari hati saya sambil 
menggenggam tangannya.
 
Walaupun ketika itu abang tidak gagah 
namun abang masih lagi memujuk hati saya 
dengan bersikap demikian kerana abang
tahu, saya terlalu risaukan kesihatan 
abang.
 
Saya kagum kerana abang masih lagi
(berusaha) menghiburkan saya walaupun
dalam keadaan uzur.
 
Saya sangat bersyukur kerana dikurniakan 
seorang suami yang baik, biarpun dalam 
keadaan terlantar, masih lagi menjaga
batas-batas saya sebagai seorang Muslim.
 
Pernah satu ketika, saya bercakap dengan
seseorang. Pada mulanya abang hanya
menghentak tangannya pada saya dengan 
perlahan, tapi lama-lama semakin kuat.
 
Rupa-rupanya abang tidak suka saya 
bercakap perkara yang tidak sedap didengar di telinganya.
 
Sampai begitu sekali dia sayangkan saya, 
supaya saya tidak buat perkara yang 
merugikan, malah abang sering berpesan
ia adalah kebaikan untuk dijadikan contoh 
kepada anak-anak.
 
Ini juga yang patut dicontohi dan saya amat bersyukur 
semasa dalam keadaan sakit dan tidak bermaya, abang 
masih lagi bangun sepertiga malam untuk bertahajud.
 
Sangat tersentuh hati saya apabila kira-kira jam 3 
pagi saya mendengar abang sedang membaca ayat-ayat 
suci al-Quran ketika bertahajud dan pernah satu ketika, 
bacaannya agak kuat kerana sengaja untuk bangunkan 
saya daripada tidur.
 
Memang inilah amalan abang sejak dulu lagi, malah 
tidak pernah abang abaikan dan mengeluh penat untuk
melaksanakannya, walaupun kadangkala balik lambat 
sehingga jam 2 pagi (sewaktu menjadi menteri besar) 
pun.
 
Bertahajud tetap menjadi keutamaannya.
 
Pernah juga abang bergurau, “Pahala solat sunat abang
lakukan ini tidak boleh berkongsi dengan
Yah, amalan masing-masing. Jadi kita 
kena sentiasa beribadah”.
 
Walaupun nada nya bergurau, tapi saya 
tahu pesanannya itu adalah daripada 
seorang suami yang mahukan yang terbaik
buat isterinya.
 
Abang memang utamakan solat. Setengah jam sebelum 
masuk waktu abang akan bersedia dengan 
wuduk dan saya masih ingat perumpamaan 
yang ditujukan kepada saya mengenai solat. Katanya, seperti menghadiri majlis 
kenduri, jika lewat datang sudah pasti
lauk-pauk tidak akan cukup lengkap. 
Katanya sama juga dengan solat, 
jadi jangan tangguh-tangguhkan.
 
(Sekali lagi air mata Tuan Sabariah 
mengalir dan tetamu yang berada di ruang
tamu juga kelihatan sayu
sambil kedengaran tangisan kecil apabi
la berkongsi mengenai baju paling disukai oleh Tok Guru yang 
digayakan oleh isterinya.
 
Keadaan menjadi lebih sayu dan masing-
masing memandang Tuan Sabariah apabila 
baju kegemaran Tok Guru itu dipakai sehari selepas pemergian Allahyarham, sambil 
tangannya digenggam erat oleh penulis)
 
Baju inilah (baju kurung kain kapas krim 
berbunga kecil) yang abang paling suka 
saya pakai, malah sering memuji corak 
yang katanya begitu sesuai dengan saya. 
Abang tidak suka saya pakai baju warna 
terang
dan bunga besar dan banyak, tetapi tidak 
pula pernah
melarang ataupun menegur sehingga saya 
berkecil hati. Pernah juga baju pemberian rakan terpaksa disimpan 
walaupun hanya beberapa kali dipakai.
 
Ini kerana abang pernah menegur saya 
secara bergurau, “Yah nampak tua pakai 
macam itu." Saya hanya membalas dengan 
ketawa dan terus  menyimpan baju itu dan
tidak dipakai lagi.
 
Bagi saya, apa yang terbaik untuk abang
adalah yang terindah bagi saya. Walaupun hal pakaian adalah 
perkara remeh bagi sesetengah isteri,
namun begitu itulah keutamaan untuk menjadi isteri yang patuh 
kepada suami

Monday, February 16, 2015



Video purports to show ISIS militants beheading hostages



A new video from ISIS shows the mass beheading of 21 Egyptian Christians who were recently kidnapped in Libya.

CAIRO (AP) -- A video purporting to show the mass beheading of Coptic Christian hostages was released Sunday by militants in Libya affiliated with the Islamic State group.

The killings raise the possibility that the Islamic militant group - which controls about a third of Syria and Iraq in a self-declared caliphate - has established a direct affiliate less than 500 miles (800 kilometers) from the southern tip of Italy. One of the militants in the video makes direct reference to that possibility, saying the group now plans to "conquer Rome."

The militants had been holding 21 Egyptian Coptic Christians hostage for weeks, all laborers rounded up from the city of Sirte in December and January. It was not clear from the video whether all 21 hostages were killed. It was one of the first such beheading videos from an Islamic State group affiliate to come from outside the group's core territory in Syria and Iraq.

The Associated Press could not immediately independently verify the video. But the Egyptian government and the Coptic Church, which is based in Egypt, both declared it authentic.

The Egyptian government declared a seven-day mourning period and President Abdel Fattah el-Sissi addressed the nation late Sunday night, pledging resilience in the fight against terrorism.

"These cowardly actions will not undermine our determination" said el-Sissi, who also banned all travel to Libya by Egyptian citizens and said his government reserves the right to seek retaliation. "Egypt and the whole world are in a fierce battle with extremist groups carrying extremist ideology and sharing the same goals."

The Coptic Church in a statement called on its followers to have "confidence that their great nation won't rest without retribution for the evil criminals."

The video's makers identified themselves as the Tripoli Province of the Islamic State group. A still photo, apparently taken from the video, was published last week in the Islamic State group's Dabiq online magazine - indicating a direct connection between the Libyan militants and the main group.

The video, released Sunday night, depicts several men in orange jumpsuits being led along a beach, each accompanied by a masked militant. The men are made to kneel and one militant, dressed differently that the others, addresses the camera in North American-accented English.

"All crusaders: safety for you will be only wishes, especially if you are fighting us all together. Therefore we will fight you all together," he said. "The sea you have hidden Sheikh Osama Bin Laden's body in, we swear to Allah we will mix it with your blood."

The men are then laid face-down and simultaneously beheaded.
The militant speaker then pointed northward across the red-stained waves and said, "We will conquer Rome, by Allah's permission."

In el-Aour, a dusty and impoverished village some 200 kilometers (125 miles) south of Cairo and home to 13 of the hostages, friends and family assumed the worst as soon as the photo was published on Thursday.

On Saturday, two days after the photo appeared, the community was wrapped in sorrow. Men covered their heads with dirt in a sign of both grief and shame. Women slapped their own faces or let out heart-wrenching shrieks of pain.

Villagers accused the Egyptian government of doing little to help the captives. The authorities, they say, were able to free Muslim Egyptians abducted in Libya in recent months but have done nothing to save the 21 because they are Christian - an accusation rooted in the deep sense of religious discrimination felt by most Egyptian Copts.

Samuel Walham's family immediately recognized him from the picture, showing him kneeling on the beach alongside four other hostages - each flanked by a knife-wielding militant.

"Look at my love. Look how beautiful he is," Walham's mother, Ibtassal Lami, said through tears as she cradled a photo of her son and women wailed in the family's ramshackle, two-story home. "He only went there to earn his living."

Libya, rich in oil and short on labor, has long been a magnet for Egyptians from all professions. Laborers have flocked there to escape poverty and unemployment at home, while professionals have gone in search of a better salary. Libya's 2011 civil war left much of the country in ruins, creating a boom for skilled foreign workers.

Egyptians have jumped at the opportunity: they are the largest single group of foreign workers in Libya. But over time, the risks have grown for those looking to Libya for a better paycheck. Egyptians, and Copts in particular, have become frequent targets for Islamic extremists who have flourished amid Libya's political turmoil. Islamic and tribal militias have overrun Libya's two largest cities, Tripoli and Benghazi - forcing the elected Western-based government and parliament to meet elsewhere.

Egyptian authorities have responded by suspending most flights to Libya and issuing travel warnings. Yet, Egyptian workers remain undeterred, and still line up outside the Libyan Embassy in Cairo in search of visas.

Walham secured his visa in late 2013. He arrived months before militias seized the capital Tripoli in August 2014. He found work as a plumber in the coastal city of Sirte, which was largely destroyed during the war and was the hometown of ousted Libyan leader Moammar Gadhafi

It was there that Walham was kidnapped on Dec. 28. Six days later, gunmen seized another 13 Egyptian Christians from Sirte in a targeted raid on a housing compound for laborers.

Abanoub Ishaq, a 19-year-old worker from el-Aour, was there the night the militants burst in just before dawn, knocking on doors with a list of names. Those who answered were hauled away, Ishaq said. He managed to evade capture by remaining silent after receiving a phone call from a Muslim neighbor who warned him not to open the door because militants were searching for Christians.

"We heard nothing but my friends' screams, then they were silenced," he told The Associated Press.

The video at the end makes reference to the case of Camelia Shehata - a longstanding rallying point for Muslim fundamentalists. Shehata is an Egyptian Coptic woman who went missing and was rumored to have converted to Islam to escape an unhappy marriage to a Coptic priest. The Coptic Church bans divorce.

Shehata was eventually found by Egyptian police and returned to the Church and promptly disappeared from public view. Her case became a rallying point for fundamentalist Muslims, who regard her as a Muslim being held prisoner by the church. Salafist Muslims in Alexandria held weekly rallies on her behalf throughout 2010, and Shehata's case is believed to be one of the motivations for a deadly bombing of a Coptic church in Alexandria on New Year's Eve 2010.
As the men are being beheaded, a subtitle on the video declares: "This filthy blood is just some of what awaits you, in revenge for Camelia and her sisters."

Saturday, February 14, 2015

Jutawan Dunia vs Jutawan Akhirat


Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Matlamat dan impian kita terlalu banyak dan selalunya berbeza-beza antara satu sama lain. Ada yang ingin menjadi jutawan dunia, ada yang ingin menjadi jutawan akhirat, dan ada juga yang ingin menjadi jutawan dunia dan jutawan akhirat. Ada yang ingin bahagia di dunia, ada yang ingin bahagia di akhirat dan ada juga yang ingin bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.

Definasi 'jutawan' dan 'bahagia' bagi kita juga mungkin akan berbeza-beza. Ada orang bahagia dengan 'cukup-cukup makan', ada orang bahagia 'dengan rumah besar dan kereta besar', ada orang bahagia dengan 'isteri solehah dan anak-anak yang ramai', ada orang bahagia 'dengan berbakti kepada ibu dan keluarganya', ada orang bahagia 'dengan berbakti kepada masyarakat', dan ada juga orang yang berbahagia 'dengan mentaati perintahNYA, menjauhi laranganNYA dan berbakti kepada agamaNYA'

Walau apa pun impian dan matlamat kita, letakkanlah matlamat dan impian ini di depan; 'mencari redhaNYA dunia dan akhirat'. Harus juga di ingat, tidak semua perkara yang 'bersifat dunia' itu adalah dunia dan tidak semua perkara yang 'bersifat akhirat' itu adalah akhirat.

Sebagai contoh; 'menderma' adalah 'bersifat akhirat' tetapi jika kita menderma semata-mata untuk bermegah-megah dan menunjuk-nunjuk maka sifatnya akan menjadi 'dunia'. Belajar bahasa mandarin 'sifatnya adalah dunia' tetapi ia juga boleh manjadi akhirat seperti yang telah dijelaskan di http://www.jutawanduniaakhirat.com/2009/11/mandarin-language.html

Jadi jauhkanlah sebarang perlakuan yang bersangka-sangka kerana 'dunia ataupun akhirat', 'dosa ataupun pahala', 'ikhlas ataupun tidak' itu tidak boleh dibuat-buat mengikut persangkaan kita; makhlukNYA yang dhaif, lemah dan hina dina ini. Sama-samalah kita belajar dan terus mencari apakah kriteria-kriteria yang telah ditetapkan untuk sifat-sifat itu.

Di dalam perjalanan menggapai impian, mungkin kita akan sesekali bertemu dengan persimpangan; antara kepentingan 'dunia' dan kepentingan 'akhirat'. Nasihat saya untuk diri saya sendiri dan untuk pengunjung semua, pilihlah jalan 'akhirat' kerana dunia ini sementara cuma dan akhirat itu kekal abadi.

Kebahagian dan kesenangan dunia ini sementara cuma, namun kebahagian dan kesenangan akhirat adalah kekal abadi. Jutawan dunia adalah sementara cuma, namun jutawan akhirat adalah kekal abadi. Mungkin esok lusa kita akan meninggalkan dunia yang fana ini, mungkin selepas saya menulis artikel ini, saya akan meninggal Cik Puan Tuan semua, mungkin selepas Cik Puan Tuan baca artikel ini Cik Puan Tuan yang akan mendahului saya.

Selalulah mengingati 'mati' kerana sebijak-bijak manusia ialah orang yang sentiasa mengingati mati dan berusaha keras untuk kehidupan selepas kematiannya. Berusahalah untuk dunia seolah-olah kita akan hidup selama-lamanya, dan berusahalah untuk akhirat seolah-olah kita akan mati esok
.

http://kayaduniakayaakhirat.blogspot.com/2009/12/jutawan-dunia-vs-jutawan-akhirat.html 

Friday, February 13, 2015


Bagaimana Setan Menggoda Kita di Waktu Tidur Malam

 



Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!”. Jika dia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembiraJika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)

Menolongok Rumah Orang Lain Tanpa Izin

Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya”. (Q.S; An Nur: 27).
Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam menegaskan, alasan diharuskannya meminta izin adalah karena dikhawatirkan orang yang masuk akan melihat aurat yang ada di rumah. Beliau Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:
“Sesungguhnya diberlakukannya meminta izin (ketika masuk rumah orang lain) adalah untuk (menjaga) penglihatan” . (Hadits riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari ; 11/ 24)

Wanita Keluar Rumah Dengan Memakai Parfum

Inilah kebiasaan yang menjadi fenomena umum di kalangan wanita. Keluar rumah dengan menggunakan parfum yang wanginya menjelajahi segala ruang. Sesuatu yang menjadikan laki-laki lebih tergoda karena umpan wewangian yang menghampirinya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam amat keras mamperingatkan masalah tersebut. Beliau Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:
“Perempuan manapun yang menggunakan parfum, kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium bau wanginya, maka dia adalah seorang pezina”. (Hadits riwayat Ahmad; 4/ 418, Shahihul Jami'; 105)
Sebagian wanita melalaikan dan meremehkan masalah ini, sehingga dengan sembarangan mereka memakai parfum. Tak peduli di sampingnya ada sopir, pedagang, satpam, atau orang lain yang tak mustahil akan tergoda.
Dalam masalah ini, syari’at Islam amat keras. Perempuan yang telah terlanjur memakai parfum, jika hendak keluar rumah ia diwajibkan mandi terlebih dahulu seperti mandi janabat, meskipun tujuan keluarnya ke masjid.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:
“Perempuan manapun yang memakai parfum, kemudian keluar ke masjid, (dengan tujuan) agar wanginya tercium orang lain, maka shalatnya tidak diterima sehingga ia mandi sebagaimana mandi jinabat”. (Hadits riwayat Ahmad; 2/ 444, Shahihul Jami'; 2073)
Setelah berbagai peringatan kita sampaikan, akhirnya kita hanya bisa mengadu kepada Allah Subhanahu wata’ala tentang para wanita yang memakai parfum dalam pesta dan berbagai pertemuan yang diselenggarakan.
Bahkan parfum yang wanginya menyengat hidung itu tak saja digunakan dalam waktu-waktu khusus, tetapi mereka gunakan di pasar-pasar, di kendaraan-kendaraan, dan di pertemuan-pertemuan umum, hingga di masjid-masjid pada malam-malam bulan suci Ramadhan.
Syari’at Islam memberikan batasan, bahwa parfum wanita muslimah adalah yang tampak warnanya dan tidak keras semerbak wanginya.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala, semoga Dia tidak murka kepada kita, dan semoga Dia tidak menghukum orang-orang shaleh baik laki-laki maupun perempuan, dengan sebab dosa orang-orang yang jahil (bodoh), dan semoga Dia menunjuki kita semua ke jalan yang lurus.

Sumber:
Syeikh Muhammad Bin Shaleh Al Munajjid. ”Dosa-dosa yang Dianggap Biasa”. 1426 H

BANYAK MELAKUKAN GERAKAN SIA-SIA DALAM SHALAT

Sebagian umat Islam hampir tak terelakkan dari bencana ini, yakni melakukan gerakan yang tak ada gunanya dalam shalat. Mereka tidak mematuhi perintah Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya:
”Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu)dengan khusyu’”. (Q.S; Al Baqarah: 238).
Juga tidak memahami firman Allah Subhanahu wata’ala:
”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam Shalatnya”. (Q.S; Al Muiminuun: 1-2).
Suatu saat Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam ditanya tentang hukum meratakan tanah ketika sujud.
Beliau Shallallahu’alaihi wassalam menjawab:
”Janganlah engkau mengusap sedangkan engkau dalam keadaan shalat, jika (terpaksa) harus melakukannya maka (cukup ) sekali meratakan kerikil”.[1]
Para ulama  menyebutkan, bahwasanya banyak gerakan secara berturut-turut tanpa dibutuhkan dapat membatalkan shalat. Apalagi jika yang dilakukan tidak ada gunanya dalam shalat.
Berdiri di hadapan Allah Subhanahu wata’ala sambil melihat jam tangan, membetulkan pakaian, memasukkan jari ke dalam hidung, melempar pandangan ke kiri, kanan, atau ke atas langit. Ia tidak takut kalau-kalau Allah Subhanahu wata’ala mencabut penglihatannya, atau syaitan melalaikannya dari ibadah shalat.
Sumber:
Syeikh Muhammad Bin Shaleh Al Munajjid. ”Dosa-dosa yang Dianggap Biasa”. 1426 H

[1] Hadits riwayat Abu Dawud; 1/ 581; dalam shahihil jamii hadits; No: 7452 (Imam Muslim meriwayatkan hadits senada dari Mu’aiqib , Bin Baz)

TIDAK THUMA’NINAH DALAM SHALAT

Di antara kejahatan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:
”Sejahat-jahatnya pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya”, mereka bertanya: ”Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?” Beliau  menjawab: “(Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”.[1]
Meninggalkan  thuma’ninah[2] , tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika rukui’dan sujud, tidak tegak ketika bangkit dari ruku’ serta ketika duduk diantara dua sujud, semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin.
Bahkan hampir bisa dikatakan, tak ada satu masjid pun kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak thuma’ninah dalam shalatnya.
Thumaininah adalah rukun shalat, tanpa melakukannya shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:
”Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud”.[3]
Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya.
Abu Abdillah Al Asyiari Rahimahullah berkata: ”(suatu ketika) Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam shalat bersama shahabatnya, kemudian beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk masjid dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu rukui lalu sujud dengan cara mematuk[4] , maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam barsabda:
”Apakah kalian menyaksikan orang ini?, barang siapa meninggal dunia dalam keadaan seperti ini (shalatnya), maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk  darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya”.[5]
Zaid bin Wahb rahimahullah berkata: “Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan  ruku’ dan sujudnya, ia lalu berkata: “Kamu belum shalat,  seandainya engkau mati (dengan membawa shalat seperti ini), niscaya engkau mati di luar fitrah (Islam) yang sesuai dengan fitrah diciptakannya Muhammad Shallallahu’alaihi wassalam“.
Orang yang tidak thumaininah dalam shalat, sedang ia mengetahui hukumnya, maka wajib baginya mengulangi shalatnya seketika dan bertaubat atas shalat-shalat yang dia lakukan tanpa thumaininah pada masa-masa lalu. Ia tidak wajib mengulangi shalat-shalatnya di masa lalu, berdasarkan hadits:
”Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat”.
Sumber:
Syeikh Muhammad Bin Shaleh Al Munajjid. ”Dosa-dosa yang Dianggap Biasa”. 1426 H

[1] Hadits riwayat Imam Ahmad,  5/  310 dan dalam Shahihul jamii hadits no: 997.
[2] Thumaininah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan, para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan ketika membaca tasbih. Lihat  fiqhus sunnah, sayyid sabiq : 1/ 124 ( pent).
[3] Hadits riwayat Abu Daud; 1/ 533, dalam shahihul jami’, hadits; No: 7224.
[4] Sujud dengan cara mematuk maksudnya: Sujud dengan cara tidak menempelkan hidung dengan lantai, dengan kata lain, sujud itu tidak sempurna, sujud  yang sempurna adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu’alaihi wassalam besabda: “Jika seseorang hamba sujud maka ia sujud denga tujuh anggota badan(nya), wajah, dua telapak tangan,dua lutut dan dua telapak kakinya”. HR. Jama’ah, kecuali Bukhari, lihat fiqhus sunnah, sayyid sabiq: 1/ 124.
[5] Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya: 1/ 332, lihat pula shifatus shalatin Nabi, Oleh Al Albani hal: 131.
Untuk mendapatkan artikel-artikel keislaman lainnya kunjungi http://muhamadilyas.wordpress.com

DUDUK BERSAMA ORANG-ORANG MUNAFIK ATAU FASIK UNTUK BERAMAH TAMAH

Banyak orang yang lemah imannya, bergaul dengan sebagian orang fasik dan ahli maksiat, bahkan mungkin ia bergaul pula dengan sebagian orang yang menghina syari’at Islam, melecehkan Islam dan para penganutnya.
Tidak diragukan lagi, perbuatan semacam itu adalah haram dan membuat cacat akidah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain, dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)”. (Q.S; Al An’am: 68).
Karenanya, jika keadaan mereka sebagaimana yang disebutkan oleh ayat di atas, betapapun hubungan kekerabatan, keramahan dan manisnya mulut mereka, kita dilarang duduk-duduk bersama mereka, kecuali bagi orang yang ingin berdakwah kepada mereka, membantah kebathilan atau mengingkari mereka, maka hal itu dibolehkan.
Adapun bila hanya dengan diam, atau malah rela dengan keadaan mereka maka hukumnya haram. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Jika sekiranya kamu ridha kepada mereka maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik”. (Q.S; At Taubah: 96).
Sumber:
Bab 5 Duduk-duduk bersama Orang  Munafik atau Fasik untuk Beramah Tamah, Kitab ”Dosa-dosa yang Dianggap Biasa” Karya Syeikh Muhammad Bin Shaleh Al Munajjid

THIYARAH

Thiyarah adalah merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya”. (Q.S; Al A’raaf: 131).
Dahulu kala diantara tradisi bangsa arab adalah; jika salah seorang dari mereka hendak melakukan suatu pekerjaan, bepergian misalnya, maka mereka meramal keberuntungannya dengan burung. Salah seorang dari mereka memegang burung lalu melepaskannya. Jika burung tersebut terbang kearah kanan, maka ia optimis sehingga melangsungkan pekerjaannya, dan  sebaliknya, jika burung tersebut terbang ke arah kiri maka ia merasa bernasib sial dan mengurungkan pekerjaan yang diinginkannya.
Oleh Nabi Shallallahu’alaihi wassalam  hukum perbuatan tersebut diterangkan dalam sabdanya:
“ Thiyarah adalah syirik”. (Hadits riwayat Ahmad, 1/ 389, dalam Shahihul Jami';No: 3955.)
Termasuk dalam kepercayaan yang diharamkan, yang juga menghilangkan kesempurnaan tauhid adalah merasa bernasib sial dengan bulan-bulan tertentu. Seperti tidak mau melakukan pernikahan pada bulan Shafar. Juga kepercayaan bahwa hari Rabu yang jatuh pada akhir setiap bulan membawa kemalangan terus- menerus.
Termasuk juga merasa sial dengan angka 13, nama-nama tertentu atau orang cacat. Misalnya, jika ia pergi membuka tokonya lalu di jalan ia melihat orang buta sebelah matanya, serta-merta ia merasa bernasib sial sehingga mengurungkan niat untuk membuka tokonya. Juga berbagai kepercayaan yang semisalnya.
Semua hal di atas hukumnya haram dan termasuk syirik. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam berlepas diri dari mereka. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imran bin
Hushain Radhiallahu’anhu:

“Tidak termasuk golongan kami orang yang melakukan atau meminta tathayyur, meramal atau meminta diramalkan (dan saya kira juga beliau bersabda); dan yang menyihir atau yang meminta disihirkan”. (Hadits riwayat Thabrani dalam Al Kabiir; 18/ 162, lihat; Shahihul Jami’ No; 5435.)
Merasa pesimis atau bernasib sial termasuk salah satu tabiat jiwa manusia. Suatu saat, perasaan itu menekan begitu kuat dan pada saat yang lain melemah. Penawarnya yang paling  ampuh adalah tawakkal kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Ibnu Masud Rhadiallahu’anhy berkata:
“Dan tiada seorangpun di antara kita kecuali telah terjadi dalam jiwanya sesuatu dari hal ini, hanya saja Allah  menghilangkannya dengan tawakkal (kepada-Nya)”. (Hadits riwayat Abu Daud; No: 3910, dalam silsilah shahihah; No: 430.)
Sumber:
“Dosa-dosa yang Dianggap Biasa” oleh Syeikh Muhammad bin Shaleh al Munajjid Bab 3 THIYARAH

RIYA’ DALAM BERIBADAH

Di antara syarat diterimanya amal shaleh adalah bersih dari riya’ dan sesuai dengan sunnah. Orang yang melakukan ibadah dengan maksud agar dilihat oleh orang lain, maka ia telah terjerumus kepada perbuatan syirik kecil, dan amalnya menjadi sia-sia belaka. Misalnya melaksanakan shalat agar dilihat orang lain.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan Allah. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (Q.S; An Nisaa': 142).
Demikian pula jika ia melakukan suatu amalan dengan tujuan agar diberitakan dan didengar oleh orang lain, maka ia termasuk syirik kecil. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassala memberikan peringatan kepada mereka dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu:
“Barangsiapa melakukan perbuatan sum’ah (ingin didengar oleh orang lain), niscaya Allah akan menyebarkan aibnya, dan barang siapa melakukan perbuatan riya’, niscaya Allah akan menyebarkan aibnya”. (Hadits riwayat Muslim, 4/ 2289.)
Barang siapa melakukan suatu ibadah tetapi ia melakukannya karena mengharap pujian manusia di samping ridha Allah Subhanahu wata’ala, maka amalannya menjadi sia-sia belaka, seperti disebutkan dalam hadits qudsi :
“Aku adalah yang Maha Cukup, tidak memerlukan sekutu, barang siapa melakukan suatu amalan dengan dicampuri perbuatan syirik kepada-Ku, niscaya Aku tinggalkan dia dan (tidak Aku terima) amal syiriknya”. (Hadits riwayat Muslim, hadits; No : 2985.)
Barang siapa melakukan suatu amal shaleh, tiba-tiba terdetik dalam hatinya perasaan riya’, tetapi ia membenci perasaan tersebut dan ia berusaha untuk melawan serta menyingkirkannya, maka amalannya tetap sah.
Berbeda halnya jika ia hanya diam dengan timbulnya perasaan riya’ tersebut, tidak berusaha untuk menyingkirkan dan bahkan malah menikmatinya, maka menurut jumhur (mayoritas) ulama, amal yang dilakukannya menjadi batal dan sia-sia.
Sumber:
“Dosa-dosa yang Dianggap Biasa” oleh Syeikh Muhammad bin Shaleh al Munajjid Bab 2 RIYA’ DALAM BERIBADAH

https://elsunnah.wordpress.com/tag/dosa-dosa-yang-dianggap-biasa/