- SELAMAT MELAYARI BLOG INI SEMOGA KITA MEMPEROLEHI MANFAATNYA DAN HARAP DISEBARLUASKAN KEPADA PEMBACA YANG LAIN PULA BERSESUAIAN DENGAN SABDA RASULULLAH S.A.W "SAMPAIKAN DARIPADAKU WALAUPUN DENGAN SATU AYAT"

Wednesday, October 29, 2014









ASal Usul Dan Sejarah Al Quran Kitab Suci Agama Islam

Al-Qur’ān (Arab: القرآن ) adalah kitab suci agama Islam.

Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui perantaraan Malaikat Jibril.

Dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-'Alaq ayat 1-5.

Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang".
Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca.
Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur'an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya:

“Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti {amalkan} bacaannya”

Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:
Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”.

Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:
"Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas"

Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa AS.

Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an.

Kemurnian Kitab Al-Quran ini dijamin langsung oleh Allah, yaitu Dzat yang menciptakan dan menurunkan Al-Quran itu sendiri.

Dan pada kenyataannya kita bisa melihat, satu-satu kitab yang mudah dipelajari bahkan sampai dihafal oleh beribu-ribu umat Islam.

Nama Nama Lain AlQuran :
Dalam Al-Qur'an sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk kepada Al-Qur'an itu sendiri.

Berikut adalah nama-nama tersebut dan ayat yang mencantumkannya:
Al-Kitab, QS(2:2),QS (44:2)
Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1)
Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9)
Al-Mau'idhah (pelajaran/nasehat): QS(10:57)
Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37)
Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39)
Asy-Syifa' (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82)
Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33)
At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)
Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77)
Ar-Ruh (ruh): QS(42:52)
Al-Bayan (penerang): QS(3:138)
Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6)
Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102)
An-Nur (cahaya): QS(4:174)
Al-Basha'ir (pedoman): QS(45:20)
Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52)
Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)


Struktur dan Pembagian Al Quran


Surat, ayat dan ruku'
 
Al-Qur'an terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surah (surat).

Setiap surat akan terdiri atas beberapa ayat, di mana surat terpanjang dengan 286 ayat adalah surat Al Baqarah dan yang terpendek hanya memiliki 3 ayat yakni surat Al Kautsar, An-Nasr dan Al-‘Așr.

Surat-surat yang panjang terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku' yang membahas tema atau topik tertentu.

Makkiyah dan Madaniyah
 
Sedangkan menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi atas surat-surat Makkiyah (surat Mekkah) dan Madaniyah (surat Madinah).

Pembagian ini berdasarkan tempat dan waktu penurunan surat dan ayat tertentu di mana surat-surat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat Makkiyah sedangkan setelahnya tergolong surat Madaniyah.
Surat yang turun di Makkah pada umumnya suratnya pendek-pendek, menyangkut prinsip-prinsip keimanan dan akhlaq, panggilannya ditujukan kepada manusia.

Sedangkan yang turun di Madinah pada umumnya suratnya panjang-panjang, menyangkut peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan atau seseorang dengan lainnya (syari'ah).

Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah ini lebih tepat, sebab ada surat Madaniyah yang turun di Mekkah.

Juz dan manzil
Dalam skema pembagian lain, Al-Qur'an juga terbagi menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal dengan nama juz.
Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang ingin menuntaskan bacaan Al-Qur'an dalam 30 hari (satu bulan).

Pembagian lain yakni manzil memecah Al-Qur'an menjadi 7 bagian dengan tujuan penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu).

Kedua jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu.

Menurut ukuran surat
Kemudian dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada didalam Al-Qur’an terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
As Sab’uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Yaitu Surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa’, Al-A’raaf, Al-An’aam, Al Maa-idah dan Yunus
Al Miuun (seratus ayat lebih), seperti Hud, Yusuf, Mu'min dan sebagainya
Al Matsaani (kurang sedikit dari seratus ayat), seperti Al-Anfaal, Al-Hijr dan sebagainya
Al Mufashshal (surat-surat pendek), seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan sebagainya

SEJARAH AL QURAN Hingga Berbentuk MUSHAF
 
Al-Qur'an memberikan dorongan yang besar untuk mempelajari sejarah dengan secara adil, objektif dan tidak memihak.

Dengan demikian tradisi sains Islam sepenuhnya mengambil inspirasi dari Al-Qur'an, sehingga umat Muslim mampu membuat sistematika penulisan sejarah yang lebih mendekati landasan penanggalan astronomis.

Al-Qur'an tidak turun sekaligus.

Al-Qur'an turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Oleh para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah.

Periode Mekkah berlangsung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah.

Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.

Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Al-Qur'an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW.

Kemudian transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan.

Pengumpulan Al-Qur'an di masa Rasullulah SAW
 
Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur'an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab.

Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan.

Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang.

Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an setelah wahyu diturunkan.

Pengumpulan Al-Qur'an di masa Khulafaur Rasyidin

Pada masa pemerintahan Abu Bakar
 
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur'an dalam jumlah yang signifikan.

Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur'an yang saat itu tersebar di antara para sahabat.

Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut.

Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur'an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar.

Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad SAW.

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan
 
Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur'an (qira'at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku.

Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini.

Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar).

Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur'an.

Mengutip hadist riwayat Ibnu Abi Dawud dalam Al-Mashahif, dengan sanad yang shahih:

Suwaid bin Ghaflah berkata, "Ali mengatakan: Katakanlah segala yang baik tentang Utsman.

Demi Allah, apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Al Qur'an sudah atas persetujuan kami.

Utsman berkata, 'Bagaimana pendapatmu tentang isu qira'at ini?
Saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qira'atnya lebih baik dari qira'at orang lain.
Ini hampir menjadi suatu kekufuran'.
Kami berkata, 'Bagaimana pendapatmu?'
Ia menjawab, 'Aku berpendapat agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.'
Kami berkata, 'Pendapatmu sangat baik'."

Menurut Syaikh Manna' Al-Qaththan dalam Mahabits fi 'Ulum Al Qur'an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat.

Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya.
Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam.

Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al Qur'an turun dalam dialek bahasa mereka.
Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah (mushaf al-Imam).

Upaya-upaya untuk mengetahui isi dan maksud Al Qur'an telah menghasilkan proses penerjemahan (literal) dan penafsiran (lebih dalam, mengupas makna) dalam berbagai bahasa.

Namun demikian hasil usaha tersebut dianggap sebatas usaha manusia dan bukan usaha untuk menduplikasi atau menggantikan teks yang asli dalam bahasa Arab.

Kedudukan terjemahan dan tafsir yang dihasilkan tidak sama dengan Al-Qur'an itu sendiri.

Terjemahan
 
Terjemahan Al-Qur'an adalah hasil usaha penerjemahan secara literal teks Al-Qur'an yang tidak dibarengi dengan usaha interpretasi lebih jauh.

Terjemahan secara literal tidak boleh dianggap sebagai arti sesungguhnya dari Al-Qur'an.

Sebab Al-Qur'an menggunakan suatu lafazh dengan berbagai gaya dan untuk suatu maksud yang bervariasi;

kadang-kadang untuk arti hakiki, kadang-kadang pula untuk arti majazi (kiasan) atau arti dan maksud lainnya.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia di antaranya dilaksanakan oleh:
 
Al-Qur'an dan Terjemahannya, oleh Departemen Agama Republik Indonesia, ada dua edisi revisi, yaitu tahun 1989 dan 2002

Terjemah Al-Qur'an, oleh Prof. Mahmud Yunus
An-Nur, oleh Prof. T.M. Hasbi Ash-Siddieqy
Al-Furqan, oleh A.Hassan guru PERSIS

Terjemahan dalam bahasa Inggris
The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary, oleh Abdullah Yusuf Ali
The Meaning of the Holy Qur'an, oleh Marmaduke Pickthall

Terjemahan dalam bahasa daerah Indonesia di antaranya dilaksanakan oleh:
 
Qur'an Kejawen (bahasa Jawa), oleh Kemajuan Islam Jogyakarta

Qur'an Suadawiah (bahasa Sunda)

Qur'an bahasa Sunda oleh K.H. Qomaruddien

Al-Ibriz (bahasa Jawa), oleh K. Bisyri Mustafa Rembang

Al-Qur'an Suci Basa Jawi (bahasa Jawa), oleh Prof. K.H.R. Muhamad Adnan

Al-Amin (bahasa Sunda)

Tafsir
 
Upaya penafsiran Al-Qur'an telah berkembang sejak semasa hidupnya Nabi Muhammad, saat itu para sahabat tinggal menanyakan kepada sang Nabi jika memerlukan penjelasan atas ayat tertentu.

Kemudian setelah wafatnya Nabi Muhammad hingga saat ini usaha menggali lebih dalam ayat-ayat Al-Qur'an terus berlanjut.

Pendekatan (metodologi) yang digunakan juga beragam, mulai dari metode analitik, tematik, hingga perbandingan antar ayat.
Corak yang dihasilkan juga beragam, terdapat tafsir dengan corak sastra-bahasa, sastra-budaya, filsafat dan teologis bahkan corak ilmiah.

ADab Terhadap Al Quran
 
Ada dua pendapat mengenai hukum menyentuh Al-Qur'an terhadap seseorang yang sedang junub, perempuan haid dan nifas.

Pendapat pertama mengatakan bahwa jika seseorang sedang mengalami kondisi tersebut tidak boleh menyentuh Al-Qur'an sebelum bersuci.

Sedangkan pendapat kedua mengatakan boleh dan sah saja untuk menyentuh Al-Qur'an, karena tidak ada dalil yang menguatkannya.

Pendapat pertama
 
Sebelum menyentuh sebuah mushaf Al-Qur'an, seorang Muslim dianjurkan untuk menyucikan dirinya terlebih dahulu dengan berwudhu.

Hal ini berdasarkan tradisi dan interpretasi secara literal dari surat Al Waaqi'ah ayat 77 hingga 79.

Terjemahannya antara lain:56-77. Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, 56-78.

pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), 56-79.
tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (56:77-56:79)

Penghormatan terhadap teks tertulis Al-Qur'an adalah salah satu unsur penting kepercayaan bagi sebagian besar Muslim.
Mereka mempercayai bahwa penghinaan secara sengaja terhadap Al Qur'an adalah sebuah bentuk penghinaan serius terhadap sesuatu yang suci.

Berdasarkan hukum pada beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim, hukuman untuk hal ini dapat berupa penjara kurungan dalam waktu yang lama dan bahkan ada yang menerapkan hukuman mati.

Pendapat kedua
 
Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud oleh surat Al Waaqi'ah di atas ialah:

"Tidak ada yang dapat menyentuh Al-Qur’an yang ada di Lauhul Mahfudz sebagaimana ditegaskan oleh ayat yang sebelumnya (ayat 78) kecuali para Malaikat yang telah disucikan oleh Allah."

Pendapat ini adalah tafsir dari Ibnu Abbas dan lain-lain sebagaimana telah diterangkan oleh Al-Hafidzh Ibnu Katsir di tafsirnya.

Bukanlah yang dimaksud bahwa tidak boleh menyentuh atau memegang Al-Qur’an kecuali orang yang bersih dari hadats besar dan hadats kecil.

Pendapat kedua ini menyatakan bahwa jikalau memang benar demikian maksudnya tentang firman Allah di atas, maka artinya akan menjadi:

Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali mereka yang suci/bersih, yakni dengan bentuk faa’il (subyek/pelaku) bukan maf’ul (obyek).

Kenyataannya Allah berfirman : Tidak ada yang menyentuhnya (Al-Qur’an) kecuali mereka yang telah disucikan, yakni dengan bentuk maf’ul (obyek) bukan sebagai faa’il (subyek).

“Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci” Yang dimaksud oleh hadits di atas ialah : Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali orang mu’min, karena orang mu’min itu suci tidak najis sebagaimana sabda Muhammad. “Sesungguhnya orang mu’min itu tidak najis”

Hubungan Dengan Kitab Kitab Lain
 
Berkaitan dengan adanya kitab-kitab yang dipercayai diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW dalam agama Islam (Taurat, Zabur, Injil, lembaran Ibrahim), Al-Qur'an dalam beberapa ayatnya menegaskan posisinya terhadap kitab-kitab tersebut.

Berikut adalah pernyataan Al-Qur'an yang tentunya menjadi doktrin bagi ummat Islam mengenai hubungan Al-Qur'an dengan kitab-kitab tersebut:

Bahwa Al-Qur'an menuntut kepercayaan ummat Islam terhadap eksistensi kitab-kitab tersebut. QS(2:4)

Bahwa Al-Qur'an diposisikan sebagai pembenar dan batu ujian (verifikator) bagi kitab-kitab sebelumnya. QS(5:48)

Bahwa Al-Qur'an menjadi referensi untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara ummat-ummat rasul yang berbeda. QS(16:63-64)

Bahwa Al-Qur'an meluruskan sejarah.

Dalam Al-Qur'an terdapat cerita-cerita mengenai kaum dari rasul-rasul terdahulu, juga mengenai beberapa bagian mengenai kehidupan para rasul tersebut.

Cerita tersebut pada beberapa aspek penting berbeda dengan versi yang terdapat pada teks-teks lain yang dimiliki baik oleh Yahudi dan Kristen.

Diambil dari Wikipedia Indonesia
 

http://asal-usul-motivasi.blogspot.com/2010/10/asal-usul-dan-sejarah-al-quran-kitab.html?m=1 








Solat Sunat Isyraq


.
Solat Sunat Isyraq dilakukan sebagai tanda syukur kepada Allah SWT kerana menganugerahkan pada hamba-Nya sehari lagi mengecapi alam ini walaupun dalam hari-hari berlalu kita banyak melakukan dosa.
.
.
Solat Sunat Isyraq dua rakaat ini dikerjakan selepas waktu Syuruk iaitu setelah matahari naik anggaran setengah galah (4 hasta atau 1.5 meter), lebih tepatnya kira-kira 12 minit setelah terbit matahari.
.
Diberi tempoh jarak masa sebegini sejak waktu Syuruk (terbit matahari) adalah supaya  ia tidak menyamai orang yang menyembah matahari.  Waktu ini juga adalah haram untuk melakukan sebarang solat kerana tanduk syaitan berada di antara matahari.
.
Dari Abdullah bin ‘Umar r.a.,katanya Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda: “Waktu Subuh adalah sejak terbit fajar hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, berhentilah solat kerana dia terbit antara dua tanduk syaitan.”  (Hadis Riwayat, Muslim r.a.)
.
Tempoh masa Solat Sunat Isyraq adalah sangat singkat iaitu 15 minit sahaja (12 minit – 27 minit setelah Syuruk), bersamaan sehingga masuk waktu Dhuha. Oleh itu wajarlah seseorang itu berikhtikaf sebentar selepas solat jemaah Subuh dengan berzikir dan membaca al-Quran sementara menunggu tibanya waktu Isyraq agar tidak terlepas memperolehi fadhilat besarnya.
.
.

Keutamaan Solat Isyraq

.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda:

 مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

 “Sesiapa solat Subuh berjemaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah  sehingga naik matahari dan mengerjakan solat dua rakaat (Solat Sunat Isyraq). Maka adalah baginya pahala seperti pahala Haji dan Umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.”  (Hadis Riwayat, At-Tirmidzi dan , ath-Thabrani r.a.)
.
Betapa besarnya keutamaan duduk/menetap di tempat solat sesudah Solat Fardhu Subuh berjemaah untuk berzikir kepada Allah SWT sehingga matahari terbit, kemudian itu melakukan solat dua rakaat, sebagaimana ditunjukkan pada hadis agung di atas yang terdapat dalam kitab ‘Tuhfatul ahwadzi’ dan ‘at-Targhib wat tarhib’.
.
.

Keterangan Hadis

Keterangan lanjut tentang hadis di atas:
 .
  • Dalam kitab ‘Bughyatul Mutathawwi’ mencatatkan solat dua rakaat ini sebagai Solat Isyraq (terbitnya matahari) oleh Ibnu Abbas yang waktunya di awal waktu (sebelum) solat dhuha.
.
  • Dalam kitab ‘Tuhfatul Ahwadzi’ “… sampai matahari terbit“. diistilah sebagai sehingga matahari terbit dan agak naik setinggi satu tombak. Manakala Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam “asy-Syarhul mumti'”  menyatakan masanya sekitar 12-15 minit selepas matahari terbit kerana Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam melarang melakukan solat ketika matahari terbit, terbenam dan ketika tegak di tengah-tengah langit. (HR Muslim)
.
  • Keutamaan dalam hadis ini lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, dari Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu: “Bahawa Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam jika selesai melakukan solat subuh, beliau duduk (berzikir) di tempat beliau solat sampai matahari terbit dan meninggi.”  (HR Muslim dan at-Tirmidzi)
.
  • Keutamaan dalam hadis ini adalah bagi orang yang berzikir kepada Allah SWT di masjid tempat dia bersolat sampai matahari terbit dan tidak bercakap atau melakukan hal-hal yang tidak termasuk zikir kecuali kalau wuduknya batal, maka dia boleh keluar masjid untuk berwuduk dan akan kembali ke masjid.
.
  • Maksud “berzikir kepada Allah” dalam hadis ini adalah umum, termasuk membaca al-Quran, membaca zikir di waktu pagi, mahupun zikir-zikir lain yang disyariatkan.
.
  • Dalam kitab ‘Tuhfatul Ahwadzi’, pengulangan kata “sempurna” dalam hadis ini adalah sebagai penguat dan penegas, dan bukan bererti mendapat tiga kali pahala haji dan umrah.
.
  • Makna “mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah” adalah hanya dalam pahala dan balasan, dan bukan bererti orang yang telah melakukannya tidak wajib lagi untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah jika dia mampu.
.
.
.
Cara Melakukan Solat Isyraq
.
1.    Sebelum mendirikan solat Isyraq bacalah doa berikut:
        
.
2.     Solat sunat Isyraq dilaksanakan sama seperti solat sunat dua rakaat yang lain.
.
3.     Lafaz niatnya:-
“Daku solat sunat Isyraq dua rakaat kerana Allah Ta’ala.”
.
4.     Bacaan surah selepas Al-Fatihah:
      Rakaat pertama, bacalah Al-A’la.
      Rakaat ke-dua, baca Al-Fil.
                    Atau;
      Rakaat pertama, bacalah Al-Kafirun.
      Rakaat ke-dua, baca Al-Ikhlas.
.
5.     Selepas salam bacalah doa ini;

.

.

6.     Atau boleh dibaca doa ini;




http://shafiqolbu.wordpress.com/solat-sunat/solat-sunat-isyraq/


Tuesday, October 28, 2014









Suffer From Snoring? This New Doctor Trusted Solution Stops Snoring and Lets You Sleep


Suffer From Snoring? This New Doctor Trusted Solution Stops Snoring and Lets You Sleep

If you constantly feel exhausted, experience headaches for no obvious reason or have high blood pressure, it could be the result of snoring.

More than a simple annoyance, snoring is also the most common symptom of a potentially serious health problem—obstructive sleep apnea (OSA).

Over 18 million Americans snore, and it’s related to OSA. People who suffer from OSA repeatedly and unknowingly stop breathing during the night due to a complete or partial obstruction of their airway.  It occurs when the jaw, throat, and tongue muscles relax, blocking the airway used to breathe.  The resulting lack of oxygen can last for a minute or longer, and occur hundreds of times each night.  
OSA has been linked to:
  • Acid reflux
  • Frequent nighttime urination
  • Memory loss
  • Stroke
  • Depression
  • Diabetes
  • Heart attack
People over 35 are at higher risk.

OSA can be expensive to diagnosis and treat — up to $5,000 — and those treatments can sometimes be quite painful. Plus, they're not always covered by insurance.  

However, a recent study published by Eastern Virginia Medical School's Division of Sleep Medicine concluded that wearing a simple chinstrap while sleeping can be an effective treatment for OSA.

The chin strap, which is now available from a company called MySnoringSolution, works by supporting the lower jaw and tongue, preventing obstruction of the airway.  It’s made from a high-tech, lightweight, and super-comfortable material.  Thousands of people have used the MySnoringSolution chinstrap and reported better sleeping, and better health overall because of it.
An effective "DoctorTrusted" snoring solution for just $119
The chinstrap was recently evaluated by Dr. Daniel L. W. Hanley, an independent medical doctor, on the DoctorTrusted website. He reviewed the chinstrap, the product's medical information and more, and found that it met the site's strict requirements and ethical code of conduct. Indeed, DoctorTrusted deemed MySnoringSolution's website "to be trustworthy and safe for purchases as of the time of the review."

The “My Snoring Solution” chinstrap is available exclusively from the company’s website, which is currently offering a limited time “2 for 1” offer.  The product also comes with an unconditional 90-day, money-back guarantee!

If you want to stop snoring once and for all, without expensive CPAPs or other intrusive devices, this may be the solution you’ve been waiting for.

Click here to learn more about this special $119 offer from MySnoringSolutions.

Tuesday, October 21, 2014









        KENYATAAN MEDIA
 
 
KETUA PENGARAH
JABATAN KEMAJUAN ISLAM MALAYSIA
BERKENAAN
PENGANJURAN KEMPEN “I WANT TO TOUCH A DOG”
________________________________________

Pertama sekali Jakim ingin membuat teguran kepada 
pihak penganjur yang telah mengadakan kempen memegang
anjing secara sengaja dan terbuka kepada umum 
termasuk mereka yang beragama Islam tanpa sebarang 
sebab yang munasabah. Hal ini sekaligus telah 
menimbulkan keresahan awam khasnya dikalangan umat 
Islam kerana secara jelas telah menyanggah pegangan
mazhab dan ‘uruf/ adat di Malaysia. 
 
Menurut Mazhab Syafie, umat Islam adalah dilarang
menyentuh anjing secara sengaja kerana menajiskan diri
tanpa tujuan yang munasabah adalah haram disisi Islam.

Walaupun Islam meletakkan kaedah sertu apabila terkena
najis yang dikategorikan sebagai ‘mughallazah’ namun
kaedah tersebut bukanlah alasan untuk membolehkan 
seseorang itu memegang najis mughallazah secara sengaja. Tindakan tersebut 
samalah seperti orang yang sengaja melakukan dosa dengan alasan akan bertaubat 
kemudiannya.

Justeru, tindakan pihak penganjur adalah dikhuatiri 
mempunyai agenda terselindung dan secara jelas dilihat 
seolah-olah cuba mencipta budaya baru dan boleh membawa
kepada perbuatan menghina Islam.

Suka Jakim tegaskan bahawa Malaysia adalah sebuah negara yang berpegang kepada 
mazhab Syafie sebagai mazhab rasmi. Justeru, peranan
Jakim adalah untuk memastikan umat Islam di negara ini 
mengamalkan syariat yang tidak menyalahi Mazhab Syafie.
 
Pada dasarnya Islam tidak memandang keji kepada binatang anjing sebagai salah 
satu makhluk Allah. Apatah lagi untuk menyeksa, memukul dan membunuh anjing 
tanpa sebab adalah sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam. Malah anjing 
tetap wajar diberi kasih sayang, belas ehsan dan dijaga kebajikannya. 

Walau bagaimanapun, dalam Mazhab Syafie, umat Islam 
tidak dibenarkan untuk menjadikan haiwan tersebut sebagai binatang peliharaan. Jakim telah mengulas 
lanjut isu berhubung kedudukan anjing dalam Islam serta hukum berkaitannya 
melalui portal fatwa Jakim di www.e-fatwa.gov.my.

Kedua, Islam mewajibkan semua umatnya untuk memelihara 
kesucian diri, pakaian dan tempat agar ia tidak menjejaskan amal ibadah seharian. 

Dalam perkara ini, Jakim bercadang untuk memanggil 
pihak penganjur bagi mendapatkan penjelasan selanjutnya.

Sekian, terima kasih. 

‘BERKHIDMAT UNTUK NEGARA’

Saya Yang Menurut Perintah

DATO’ HAJI OTHMAN MUSTAPHA
20 Oktober 2014
 
 
Penjelasan yang sangat tuntas telah diberikan oleh al-fadhil ustaz Abu Zulfaqar ketika majlis "i want to touch a dog". al-fadhil ustaz dengan jelas menyatakan bahawa anjing adalah najis mughallazoh dan berlumuran atau bersentuhan dengan anjing tanpa sebarang alasan adalah dilarang oleh Islam (minit 3:33 - 4:17)

Malangnya inilah perkara yang sering berlaku di dalam masyarakat kita iaitu kita suka mengambil atau mendengar perkara-perkara yang kita suka sahaja daripada apa yang telah disampaikan oleh para daie. Kemudian kita mengamalkan agama ini berdasarkan apa yang kita suka dan akhirnya menyandarkan amalan tersebut kepada ustaz-ustaz dan para daie seolah2 mereka yang memberikan endorsement terhadap apa yang kita lakukan.
 
Saudara Mohd Iqbal cuma dijemput untuk ceramah di majlis itu. Penganjurnya Syed Azmi Al Habshi. Perlakuan peserta/pengunjung  Melayu-Islam yang bermesra2 dengan anjing tersebut berlaku di luar kawalan / pengetahuan penganjur dan sauadara Mohd. Iqbal sendiri dan hal itu telah di manipulasi oleh media (TVKINI & MALAYSIAINSIDER) untuk nyalakan api fitnah.
 
  Terima kasih Ustaz kerana memberikan pencerahan tentang isu 'I want to Touch a Dog'. Kita sekarang dikelilingi pihak liberal bandar yang terlalu memaparkan mereka berfikiran terbuka dan 'world' terhadap non Muslim tanpa mempunyai pegangan ilmu agama yang cukup. Ada pihak tertentu pula cuba mengambil kesempatan kelemahan ini untuk mencelarukan, melagakan lagi masyarakat Melayu Muslim supaya berpecah belah memenuhi agenda tersembunyi mereka melemahkan agama Islam dan orang Melayu. Wallahua'lam.
https://www.facebook.com/abu.zulfaqar?fref=ts 
 
 
 
 
 
 
 
 
  

Ustaz Dr Asri: Sentuh anjing tak haram


Mohd Asri
Hukum menyentuh anjing tidak haram walaupun haiwan itu tergolong dalam najis berat, kata bekas mufti Perlis Datuk Dr Mohd Asri Zainul Abidin.

Asri berkata ulama sepakat mengatakan anjing yang kering tidak najis, namun ‎najis boleh disentuh tetapi dengan syarat perlu dibasuh jika hendak beribadat atau pun berurusan dengan masyarakat.

“Mazhab Syafie agak tegas dalam hal ini. Namun, pendapat mazhab lain lebih luas dan mudah.

“Sebahagian fuqaha hanya membataskan najis anjing itu hanya jilatannya kerana itu sahaja yang disebut dalam hadis, “Apabila anjing menjilat bekas seseorang kamu, maka basuhlah sebanyak tujuh kali. Salah satunya dengan tanah,” katanya memetik Riwayat al-Bukhari dalam responnya terhadap program “I Want To Touch A Dog”, semalam.

Katanya, jika najis itu dianggap haram, ‎maka haram juga seseorang menyentuh najis dirinya, ataupun anaknya ataupun sesiapa di bawah jagaannya ketika membersihkannya. ‎

Begitu juga dengan ‎mereka yang bekerja yang membabitkan bahan bernajis seperti mencuci tandas ataupun darah ataupun nanah dan lain-lain, katanya.‎

“‎Begitu juga dengan doktor veterinar. Maka itu kesimpulan hukum yang cetek.”

‎Menyentuh isu memelihara anjing dalam rumah, katanya jika tiada tujuan selain buruan atau menjaga ternakan, hukumnya adalah makruh.

Katanya, walaupun ada ulama yang mengharamkan, tetapi hadis Islam tidak menyebut dosa, tetapi pengurang pahala sahaja.

“Maka hukum makruh dipilih oleh sebahagian ahli fekah.
“Hikmahnya mungkin atas beberapa sebab yang berkaitan kerohanian dan kemasyarakatan,” katanya.

Menurut pensyarah Universiti Sains Malaysia (USM), Islam ada sebab menghalang penganutnya memelihara anjing, antaranya baunya dan salakannya menakutkan sesetengah orang.‎


Katanya aspek fizikal anjing itu bertentangan dengan agama yang mementingkan kemasyarakatan dan hubungan baik antara jiran, saudara dan sahabat sandai.‎

“Sesiapa yang pernah pergi ke rumah pemelihara anjing, atau menaiki kenderaan yang ada anjing dia akan tahu baunya yang bukan semua orang dapat bertahan.

“Salakan anjing dan bulu di sana sini bagaikan tidak mengalu-alukan tetamu,” katanya.

Tambahnya, anjing juga berisiko dari segi keselamatan dan kesihatan termasuk gigitan, najis, serta jilatannya.

Namun beliau menegaskan, cubaan Islam mengelakkan bahaya anjing yang dipelihara dalam rumah dengan melarang penganutnya berbuat demikian tidak bererti membenarkan penindasan terhadap anjing.

“Un‎tuk mengelak jilatan anjing yang sentiasa menjelir lidah, yang dianggap najis dari segi agama dan saintifik, maka Islam melarang kita memelihara anjing dalam rumah tanpa alasan yang diizinkan,” katanya.

Program itu dianjurkan bagi menghapuskan perasaan takut dan skeptikal masyarakat terutamanya Melayu dan Islam terhadap anjing.

Walaupun mendapat sambutan, namun ia juga mendapat kecaman termasuk mufti di beberapa negeri yang menganggapnya melanggar budaya masyarakat.

Ketua Pengarah Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) Datuk Othman Mustapa dilaporkan berkata pihaknya akan menjalankan siasatan terperinci berhubung anjuran tersebut yang dianggap tidak sepatutnya berlaku.

Kesal dengan sikap tidak bertanggungjawab pihak penganjur yang tidak prihatin dengan sensitiviti umat Islam di negara ini, katanya Islam di Malaysia yang berpegang teguh kepada mazhab Syafie sudah jelas memperincikan bahawa anjing dan babi itu tergolong dalam najis berat.

“Acara itu tidak pernah dianjurkan sebelum ini dan ia merupakan kali pertama didedahkan kepada masyarakat, kita orang Islam dan agama sudah menetapkan dengan jelas hukum berkaitan anjing.

“Jakim akan segera menyiasat perkara ini dan sebarang tindakan akan dirujuk pada peruntukan yang ada,” katanya dipetik laporan Bernama.

Saturday, October 18, 2014









Kuliah Subuh 18 Oktober 2014


Hadith Nabi SAW yg menerangkan agama kpd kita maka perlulah ikut.

Ramai org yg berusaha menyibarkan agama maka kita perlu memahami hadith nabi SAW

Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an.
Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah.
Ada bermacam-macam hadits, seperti yang diuraikan di bawah ini.

•                    Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya perawi 
•                    Hadits Mutawatir 
•                    Hadits Ahad 
•                    Hadits Shahih 
•                    Hadits Hasan 
•                    Hadits Dha'if 
•                    Menurut Macam Periwayatannya 
•                    Hadits yang bersambung sanadnya (hadits Marfu' atau Maushul) 
•                    Hadits yang terputus sanadnya 
•                    Hadits Mu'allaq 
•                    Hadits Mursal 
•                    Hadits Mudallas 
•                    Hadits Munqathi 
•                    Hadits Mu'dhol 
•                    Hadits-hadits dha'if disebabkan oleh cacat perawi 
•                    Hadits Maudhu' 
•                    Hadits Matruk 
•                    Hadits Mungkar 
•                    Hadits Mu'allal 
•                    Hadits Mudhthorib 
•                    Hadits Maqlub 
•                    Hadits Munqalib 
•                    Hadits Mudraj 
•                    Hadits Syadz
•                    Beberapa pengertian dalam ilmu hadits 
•                    Beberapa kitab hadits yang masyhur / populer

I. Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya Perawi
I.A. Hadits Mutawatir
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad yang tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Berita itu mengenai hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera. Dan berita itu diterima dari sejumlah orang yang semacam itu juga. Berdasarkan itu, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu hadits bisa dikatakan sebagai hadits Mutawatir:
1.            Isi hadits itu harus hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera. 
2.            Orang yang menceritakannya harus sejumlah orang yang menurut ada kebiasaan, tidak mungkin berdusta. Sifatnya Qath'iy. 
3.            Pemberita-pemberita itu terdapat pada semua generasi yang sama.
I.B. Hadits Ahad
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir. Sifatnya atau tingkatannya adalah "zhonniy". Sebelumnya para ulama membagi hadits Ahad menjadi dua macam, yakni hadits Shahih dan hadits Dha'if. Namun Imam At Turmudzy kemudian membagi hadits Ahad ini menjadi tiga macam, yaitu:
I.B.1. Hadits Shahih
Menurut Ibnu Sholah, hadits shahih ialah hadits yang bersambung sanadnya. Ia diriwayatkan oleh orang yang adil lagi dhobit (kuat ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak mu'allal (tidak cacat). Jadi hadits Shahih itu memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
1.            Kandungan isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur'an. 
2.            Harus bersambung sanadnya 
3.            Diriwayatkan oleh orang / perawi yang adil. 
4.            Diriwayatkan oleh orang yang dhobit (kuat ingatannya) 
5.            Tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) 
6.            Tidak cacat walaupun tersembunyi. 
I.B.2. Hadits Hasan
Ialah hadits yang banyak sumbernya atau jalannya dan dikalangan perawinya tidak ada yang disangka dusta dan tidak syadz.
I.B.3. Hadits Dha'if
Ialah hadits yang tidak bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil dan tidak dhobit, syadz dan cacat.
II. Menurut Macam Periwayatannya
II.A. Hadits yang bersambung sanadnya
Hadits ini adalah hadits yang bersambung sanadnya hingga Nabi Muhammad SAW. Hadits ini disebut hadits Marfu' atau Maushul.
II.B. Hadits yang terputus sanadnya
II.B.1. Hadits Mu'allaq
Hadits ini disebut juga hadits yang tergantung, yaitu hadits yang permulaan sanadnya dibuang oleh seorang atau lebih hingga akhir sanadnya, yang berarti termasuk hadits dha'if.
II.B.2. Hadits Mursal
Disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi'in dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebutkan sahabat tempat menerima hadits itu.
II.B.3. Hadits Mudallas
Disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad ataupun pada gurunya. Jadi hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.
II.B.4. Hadits Munqathi
Disebut juga hadits yang terputus yaitu hadits yang gugur atau hilang seorang atau dua orang perawi selain sahabat dan tabi'in.
II.B.5. Hadits Mu'dhol
Disebut juga hadits yang terputus sanadnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi'it dan tabi'in dari Nabi Muhammad SAW atau dari Sahabat tanpa menyebutkan tabi'in yang menjadi sanadnya. Kesemuanya itu dinilai dari ciri hadits Shahih tersebut di atas adalah termasuk hadits-hadits dha'if.
III. Hadits-hadits dha'if disebabkan oleh cacat perawi
III.A. Hadits Maudhu'
Yang berarti yang dilarang, yaitu hadits dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau dituduh dusta. Jadi hadits itu adalah hasil karangannya sendiri bahkan tidak pantas disebut hadits.
III.B. Hadits Matruk
Yang berarti hadits yang ditinggalkan, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta.
III.C. Hadits Mungkar
Yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya / jujur.
III.D. Hadits Mu'allal
Artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa disebut juga dengan hadits Ma'lul (yang dicacati) atau disebut juga hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat).
III.E. Hadits Mudhthorib
Artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidak sama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan.
III.F. Hadits Maqlub
Artinya hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi).
III.G. Hadits Munqalib
Yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah.
III.H. Hadits Mudraj
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang didalamnya terdapat tambahan yang bukan hadits, baik keterangan tambahan dari perawi sendiri atau lainnya.
III.I. Hadits Syadz
Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya) yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi (periwayat / pembawa) yang terpercaya pula. Demikian menurut sebagian ulama Hijaz sehingga hadits syadz jarang dihapal ulama hadits. Sedang yang banyak dihapal ulama hadits disebut juga hadits Mahfudz.

IV. Beberapa pengertian (istilah) dalam ilmu hadits
IV.A. Muttafaq 'Alaih
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama, atau dikenal juga dengan Hadits Bukhari - Muslim.
IV.B. As Sab'ah
As Sab'ah berarti tujuh perawi, yaitu:
1.            Imam Ahmad 
2.            Imam Bukhari 
3.            Imam Muslim 
4.            Imam Abu Daud 
5.            Imam Tirmidzi 
6.            Imam Nasa'i 
7.            Imam Ibnu Majah 
IV.C. As Sittah
Yaitu enam perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad bin Hanbal.
IV.D. Al Khamsah
Yaitu lima perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Bukhari dan Imam Muslim.
IV.E. Al Arba'ah
Yaitu empat perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim.
IV.F. Ats tsalatsah
Yaitu tiga perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ibnu Majah.
IV.G. Perawi
Yaitu orang yang meriwayatkan hadits.
IV.H. Sanad
Sanad berarti sandaran yaitu jalan matan dari Nabi Muhammad SAW sampai kepada orang yang mengeluarkan (mukhrij) hadits itu atau mudawwin (orang yang menghimpun atau membukukan) hadits. Sanad biasa disebut juga dengan Isnad berarti penyandaran. Pada dasarnya orang atau ulama yang menjadi sanad hadits itu adalah perawi juga.
IV.I. Matan
Matan ialah isi hadits baik berupa sabda Nabi Muhammad SAW, maupun berupa perbuatan Nabi Muhammad SAW yang diceritakan oleh sahabat atau berupa taqrirnya.

Sumber