Apakah Doa dan Usaha Bisa Mengubah Takdir?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Terkadang kita mendengar suara keluhan seseorang bahwa saya sudah
beribadah dengan sungguh-sungguh shalat, puasa, tapi tetap saja saya
miskin, fakir, dan tidak memiliki apa-apa seperti halnya orang lain. Ah
... mungkin inilah yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk saya. Dan
mungkin Allah memang sudah menetapkan nasibku seperti ini.
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, mempercayai qada dan qadar adalah
rukun iman yang ke enam atau yang paling terakhir, hukumnya wajib
dipercayai, diyakini dan diamalkan dengan sebenar-benarnya.
Namun qada dan qadar ini mendatangkan dua efek, kesan, dan pengaruh yang
saling kontradiktif apabila seseorang tidak memahami dengan betul akan
makna takdir ilahi. Kedua kesan ini adalah:
1) Kesan yang
pertama, ummat Islam tidak pernah akan merasakan stress dalam hidup.
hidupnya senantiasa dalam keadaan nyaman dan tenteram, serta terhindar
dari sifat sifat mazmumah seperti, iri hati, dengki. Dan meskipun dia
hidup dalam suasana persaingan, maka ia akan menjalani persaingan dengan
cara yang sehat, sebab dalam hatinya segala apa yang menimpa dirinya
sama halnya ia baik ataupun buruk, tetap akan diserahkan kepada Allah.
Ini adalah kesan yang positif dari pada qada dan qadar.
2)
Kesan yang kedua adalah, seseorang boleh saja dengan alasan takdir, ia
akan mengatakan tidak usah berusaha bersusah payah, toh semuanya sudah
ditentukan oleh Allah yang Maha Kuasa. Tidak perlu belajar dan tidak
perlu bekerja keras. Ini tentunya kesan yang negative pada diri seorang
mu’min. kemungkinan inilah yang membuatkan Nabi melarang para sahabat
untuk mendalami masalah takdir, beliau berkata:
وَإِذَا ذَكَرَ (أَصْحَابِي) اَلْقَدْرَ فَأَمْسِكُوْا -الطبراني
"Jika sahabatku menyebut perkara takdir, maka hentikanlah mereka (membahas takdir)”
Ada dua hal yang perlu kita bicarakan mengenai takdir Allah, yaitu:
Pertama: Takdir merupakan rahasia Allah.
Oleh karena itu tak satupun manusia dalam dunia ini yang mampu
mengetahui jangka nyawanya atau ajal kematiannya, di mana akan mati? (di
kampung sendiri ataukah di luar kampung, di negara sendiri ataukah di
luar negara), tatkala mati dalam keadaan apa?
Apakah
kematiannya disebabkan oleh karena sakit, kecelakaan, atau mati biasa.
Begitu juga halnya dengan rezki yang diperoleh, berapa banyak
jumlahnya?. Bahkan Rasulullah Saw tidak sanggup menembusi hal-hal ghaib
tersebut termasuk takdir ilahi. Disebutkan di dalam al-Qur’an:
قُل لاَّ أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَآئِنُ اللّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ
وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى
إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلاَ
تَتَفَكَّرُونَ -الأنعام: 50
"Katakanlah:"Aku tidak mengatakan
kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku
mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku
ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan
kepadaku. Katakanlah:"Apakah sama orang yang buta dengan orang yang
melihat". Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)”.
Kerahasiaan ini ditegaskan dalam firman Allah:
وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ
مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ
يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ
يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ -الأنعام: 59
"Dan pada sisi
Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di
lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya
(pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak
sesuatu yang basah atau yang kering, melaimkan tertulis dalam kitab yang
nyata (Lauh Mahfuzh)."
Dalam masalah ajal kematian, Allah telah menegaskan dalam firmanNya:
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ
وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ
غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ
خَبِيرٌ -لقمان: 34
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya
sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan
hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.Dan tiada seorangpun yang
dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.Dan
tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan
mati.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Kedua: Perubahan Takdir.
Kalau saya katakan bahwa takdir boleh berubah, kemungkinan besar banyak
yang tidak setuju dan merasa heran dan bertanya “kok takdir boleh
berubah?” bukankah dalam riwayat penciptaan manusia, bahwa ketika masih
dalam rahim ibu, tatkala usia kandungan telah mencapai umur 40 hari,
Malaikat diperintahkan oleh Allah untuk menulis catatan. Di antaranya
adalah mengenai ajal, rezeqi dan kehidupan baik dan buruk. Bukankah ini
takdir Allah yang sudah ditetapkan dan akan di bawa dalam kehidupan
seseorang sesuai dengan ketentuan-ketentuan tersebut?.
Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kalau saya uraikan definisi Qada dan Qadar.
Qada bermaksud pelaksanaan, hasil, buah (realisasi), Adapun qadar
bermaksud sukatan (anggaran). Namun dalam bahasa melayu kedua-duanya
digabungkan menjadi satu yaitu istilah TAKDIR. Kemudian Takdir tersebut
terbagi kepada dua bagian iaitu: Qada Mubram dan Qada Mu'allaq.
1) Qada Mubram: Adalah ketentuan Allah Taala yang pasti berlaku. Semua
manusia pasti akan menghadapinya, ingin atau tidak, mahu atau tidak
mahu, senang ataupun tidak, setiap orang pasti akan menjumpainya, sebab
hal tersebut tidak dapat dihalang oleh sesuatu apa pun. Sebagai
contohnya adalah perkara kematian. Sebagaimana yang difirmankan oleh
Allah:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوَكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ -الأنبياء:
35 -.
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu
dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).
Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.
Jadi masalah
kematian merupakan perkara yang pasti dihadapi oleh setiap manusia.
Karena ia merupakan suatu kepastian maka dinamakan sebagai Qada Mubram.
Oleh karena itu Allah tegaskan jenis Qada ini dalam surah ar-Ra’ad,
ayat: 11:
وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ -الرعد:11-.
"Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak
ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka
selain Dia”.
Rasulpun pernah bersabdah tentang jenis Qada ini:
(إِنَّ رَبِّي قَالَ: يَا مُحَمَّدْ، إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لاَ يُرَدُّ) -مسلم-
"Sesungguhnya Tuhanku berkata padaku: Wahai Muhammad! Sesungguhnya Aku
kalau sudah menentukan sesuatu maka tiada seorangpun yang sanggup
menolaknya”.
2) Qada Mu'allaq: Adalah takdir yang digantung
atau bersyarat, dalam artian ketentuan tersebut boleh berlaku dan
terjadi, dan boleh juga tidak terjadi pada diri seseorang, bahkan ia
bergantung kepada usaha manusia itu sendiri, Qada ini yang telah
disampaikan oleh Allah kepada Malaikat dan disimpan olehnya, jenis Qada
ini telah ditegaskan oleh Allah ta’ala:
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ -الرعد:11-.
"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa seseorang mampu merubah nasib
dengan usaha sendiri, dan dengan izin Allah Swt. Oleh karena itu agama
memberikan dua syarat utama untuk mengubah takdir, yaitu dengan cara
memperbanyak doa dan menyambung silaturrahim.
Dalam kaitannya
dengan perubahan umur manusia, para ulama berselisih faham tentang
bolehkan berubah atau tidak?, bolehkan dipanjangkan atau dikurangkan?.
Hal ini disebabkan oleh adanya sumber hukum yang secara zahir dari
al-Qur’an yang menyatakan dengan jelas bahwa umur seseorang tidak akan
ditambah ataupun dikurangkan, yaitu firman Allah:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ -الأعراف:34-.
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (kematian); maka apabila telah
datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan
tidak dapat (pula) memajukannya”.
Di samping ayat tersebut,
terdapat juga hadits yang secara zahir menjelaskan bahwa doa dan
silaturrahim dapat memanjangkan umur seseorang, dan mampu melapangkan
rezqinya. Hadits tesebut adalah
(لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ، وَلاَ يُزِيْدُ فِى الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِرُّ) -الترمذي-
"Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa”.
Oleh karena itu, doa’ dalam Islam sangat digalakkan dan Allah
menjanjikan akan menerima doa seseorang mukmin yang betul-betul
mengharap diterima doanya, firman Allah:
(وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ) -المؤمنون: 60-.
"Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min 60).
Ayat ini dapat dipahami lebih mendalam bahwa doa disyariatkan dalam
Islam pada dasarnya untuk merubah nasib seseorang, sebab apalah gunanya
seseoarang berdoa kalau ia tidak mengharap perubahan dari Allah. Baik
perubahan umur dengan dipanjangkan umurnya, atau mengharap rezki dengan
meminta ditambahkan rezkinya.
(مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأُ لَهُ فِي أَثْرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ) -البخاري-
"Siapa saja yang ingin dimudahkan rezqinya, dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silaturrahim”.
Kalau dicermati dan direnungkan, memang Allah dalam kenyataan ayat 34
pada surah al-A’raf di atas tidak akan merubah ajal seseorang, tapi
perlu diketahui takdir yang dibagi kepada setiap insan itu bukan hanya
satu takdir, melainkan ada beberapa takdir.
Contohnya, Allah
menentukan ajal si fulan untuk hidup selama 60 tahun, di samping itu
juga Allah bagi takdir lain untuk hidup sampai 70 tahun lamanya. Dalam
artian sesuai dengan hadis di atas kalau si fulan menyambung
silaturrahmi maka takdir kedua akan ia capai, tapi kalau tidak maka ia
akan dibagi takdir yang pertama, yaitu akan hidup hanya sampai 60 tahun
saja.
Pendapat ini telah ditegaskan oleh Ibnu Qutaibah dalam
kitabnya “Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits”, beliau menjelaskan bahwa “Ta’jil”
memiliki dua makna: pertama: Kehidupan yang lapang, kemudahan rezqi dan
sehat jasmani. Kedua: Penambahan umur, di mana Allah Swt mentakdirkan
seseorang dengan dua takdir umur, yaitu 100 dan 80, jika seseorang
menyambung silaturrahim maka ia akan mencapai 100 tahun umurnya, namun
jika tidak maka ia hanya akan dapat umur 80 tahun.
Hal serupa
dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitab “Fathu al-Baari”, beliau
menerangkan bahwa sesungguhnya hadits dan ayat “Ta’jil” boleh
digabungkan bersama, yaitu dengan memahaminya kepada dua bahagian. Yang
pertama: Maksud penambahan adalah Allah menambahkan keberkatan hidup
bagi seorang mu’min yang menjalin silaturrahim. Yang kedua:
Hakikatnya adalah penambahan umur, di mana seseorang yang menjalin dan
menyambung silaturrahim akan ditambahkan umurnya secara angka.
Beliaupun memberikan contoh umur, misalnya, umur seseorang ditentukan
Allah antara enam puluh tahun dan seratus tahun, takdir pertama (enam
puluh tahun) dinamakan sebagai Qadha Mubram, sementara umur seratus
tahun adalah Qadha Mu’allaq. Namun penambahan di sini adalah sesuai
dengan ilmu Malaikat dan pengetahuannya, bukan ilmu Allah. Dalam hal ini
Ibnu Hajar memilih penafsiran pertama yaitu menerjemahkan penambahan
umur sebagai bentuk keberkatan hidup.
Pada permasalahan lain, misalnya penyakit, dalam satu riwayat disebutkan bahwa, penyakit dan obat merupakan takdir ilahi.
يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرَأَيْتَ رِقًى نَسْتَرْقِيْهَا وَدَوَاءٌ
نَتَدَاوَى بِهِ وَتُقَاةٍ نَتَّقِيْهَا، هَلْ تَرُدٌّ مِنْ قَدْرِ اللهِ
شَيْئًا ؟ قَالَ: هِيَ مِنْ قَدْرِ اللهِ -الترمذي-.
“Ya
Rasulallah bagaimana pandangan engkau terhadap Ruqyah-ruqyah yang kami
gunakan untuk jampi, obat-obatan yang kami gunakan untuk mengobati
penyakit, perlindungan-perlindungan yang kami gunakan untuk menghindari
dari sesuatu, apakah itu semua bisa menolak takdir ALLAH ?Jawab
Rasulullah saw : Semua itu adalah (juga) takdir ALLAH”.
Satu
riwayat juga disebutkan bahwa tatkala Umar bin Khattab dan rombongannya
melakukan perjalanan ke suatu tempat di Syiria, dan beliau tiba-tiba
dikabarkan bahwa tempat yang dituju sedang dilanda penyakit wabak,
(penyakit menular), kemudian Umar bermusyawarah dengan rombongan untuk
mencari jalan keluar (way out ), lantas Umar dan rombongan sepakat untuk
membatalkan perjalanan tersebut dan kembali ke Madinah, kemudian salah
seorang sahabat yang bernama Abu Ubaidah tiba-tiba memprotes keputusan
Umar yang tidak ingin melanjutkan perjalanan:
فَقَالَ أَبُو
عُبَيْدَة بْن الْجَرَّاحِ: أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ؟ فَقَالَ
عُمَرُ: "لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ - وَكَانَ عُمَرُ
يَكْرَهُ خِلاَفَهُ - نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ
اللَّهِ".
Abu Ubaidah bin al-jarrah berkata ““Apakah kita
hendak lari menghindari taqdir Allah?” Umar menjawab: “Benar, kita
menghindari suatu taqdir Allah dan menuju taqdir Allah yang lain”.
Hadits ini memberikan gambaran jelas bahwa takdir itu bukan hanya satu melainkan berbilang.
Untuk mengakhiri bahasan ini saya sebutkan suatu kisah, di mana pada
suatu hari malaikat Izra`il, malaikat pencabut nyawa, memberi kabar
kepada Nabi Daud a.s., bahwa si Fulan minggu depan akan dicabut
nyawanya.
Namun ternyata setelah sampai satu minggu nyawa si
Fulan belum juga mati, sehinggalah Nabi Daud bertanya, mengapa si Fulan
belum mati-mati juga, sementara engkau katakan minggu lepas bahwa minggu
depan kamu akan mencabut nyawanya.
Izra`il menjawab, "ya betul
saya berjanji akan mencabut nyawanya, tapi ketika sampai masa
pencabutan nyawa, Allah memberi perintah kepadaku untuk menangguhkannya
dan membiarkan ia hidup lagi untuk 20 tahun mendatang, Nabi Daud
bertanya, mengapa demikian?, Jawab Izra`il: orang tersebut sangat aktif
menyambung silaturrahim sesama saudaranya. Karena itu Allah memberikan
tambahan umur selama 20 tahun kepadanya.
Jadi sebagai
kesimpulan, semua peristiwa, kejadian dan keadaan yang telah dan yang
akan kita hadapi, semuanya di dalam pengetahuan dan pengamatan serta
kekuasaan Allah, yang tidak terbelenggu, tidak diikat dan tidak dibatasi
oleh masa.
Takdir ada yang boleh berubah dan ada yang tidak
akan berubah, yang boleh berubah dikenal dengan istilah Qada Mu’allaq,
yaitu takdir yang bergantung dan bersayarat, sementara takdir yang tidak
akan berubah dinamakan sebagai Qada Mubram, yaitu takdir yang pasti
berlaku pada diri seseorang.
Adapun langkah untuk merubah takdir (nasib) yang mu’allaq adalah sebagai berikut:
1) Berusaha, yaitu dengan melakukan aksi terhadap apa saja yang diinginkan terjadi perubahan atasnya.
2) Berdo’a, yaitu memanjatkan harapan kepada Allah terhadap maksud yang diinginkan diqabulkan olehNya.
3) Tawakkal, yaitu menunggu keputusan, hasil daripada usaha dan doa yang diminta.
Setelah hal di atas dilakukan, maka kita tinggal menunggu ketentuan
Allah yang disebut dengan (takdir). Dan untuk menambahkan keyakinan kita
terhadap perubahan takdir mu’allaq, ada baiknya kita renungi bersama
ayat di bawah ini:
يَمْحُو اللّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ -الرعد: 39-
"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia
kehendaki), dan disisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)”.
Semoga dalam bulan ramadhan ini, segala amal dan doa yang kita
panjatkan kepada Allah Swt, boleh menurunkan qada mu’allaq yang Allah
sudah sediakan kepada kita semuanya. Amin.
Comments
Post a Comment